<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Saatnya Berubah</title>
	<atom:link href="http://sadakata.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sadakata.wordpress.com</link>
	<description>Who Knows  What Miracles</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Mar 2009 06:57:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='sadakata.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/0e4721e5d0323561a33512705b8c1370?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Saatnya Berubah</title>
		<link>http://sadakata.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Mendapatkan Uang dari Internet</title>
		<link>http://sadakata.wordpress.com/2009/03/02/mendapatkan-uang-dari-internet/</link>
		<comments>http://sadakata.wordpress.com/2009/03/02/mendapatkan-uang-dari-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 06:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Afiliasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sadakata.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[ingin mendapatkan uang dari internet dengan mudah. Harus mengikuti preosedur yang ada. Untuk permulaan Anda dapat Klik di



mulailah dengan hal hal senderhana.  Selanjutnya anda akan belajar menjadi seorang peselanjar yang bagus
salam

       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=25&subd=sadakata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>ingin mendapatkan uang dari internet dengan mudah. Harus mengikuti preosedur yang ada. Untuk permulaan Anda dapat Klik di</p>
<p><a href="http://www.ariaptc.com/pages/index.php?refid=sajuta"><img class="aligncenter size-medium wp-image-24" title="banner11" src="http://sadakata.files.wordpress.com/2009/03/banner11.gif?w=418&#038;h=53" alt="banner11" width="418" height="53" /></a></p>
<p><a href="http://www.ariaptc.com/pages/index.php?refid=sajuta"><img class="aligncenter size-medium wp-image-27" title="banner2" src="http://sadakata.files.wordpress.com/2009/03/banner2.gif?w=421&#038;h=52" alt="banner2" width="421" height="52" /></a></p>
<p><a href="http://www.ariaptc.com/pages/index.php?refid=sajuta"><img class="aligncenter size-medium wp-image-29" title="banner31" src="http://sadakata.files.wordpress.com/2009/03/banner31.gif?w=420&#038;h=50" alt="banner31" width="420" height="50" /></a></p>
<p>mulailah dengan hal hal senderhana.  Selanjutnya anda akan belajar menjadi seorang peselanjar yang bagus</p>
<p>salam</p>
<p><a href="//www.ariaptc.com/pages/index.php?refid=sajuta&quot;&gt;&lt;img src="></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sadakata.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sadakata.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sadakata.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sadakata.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sadakata.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sadakata.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sadakata.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sadakata.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sadakata.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sadakata.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=25&subd=sadakata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sadakata.wordpress.com/2009/03/02/mendapatkan-uang-dari-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c1c6709bd755c1f7cb1710e0700ed16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sadakata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sadakata.files.wordpress.com/2009/03/banner11.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">banner11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sadakata.files.wordpress.com/2009/03/banner2.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">banner2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sadakata.files.wordpress.com/2009/03/banner31.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">banner31</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGELOLAAN BELAJAR AKTIF</title>
		<link>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/29/pengelolaan-belajar-aktif/</link>
		<comments>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/29/pengelolaan-belajar-aktif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 04:55:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sadakata.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[ 
DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN[1]
Oleh: B.S.Sidjabat, Ed.D

Pengantar
Salah satu tugas dan peran guru yang penting ialah mengelola kegiatan belajar siswanya, supaya mengalami perubahan hidup secara menyeluruh termasuk dalam aspek kognitif, afektif, spiritual dan psikomotoris.  Untuk tujuan itu, tugas guru bukan hanya terbatas pada menyampaikan bahan pengajarannya.  Dia bukan hanya berfungsi sebagai instructor. Guru juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=13&subd=sadakata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN</strong><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><strong><strong>[1]</strong></strong></a></p>
<p align="center">Oleh: B.S.Sidjabat, Ed.D</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">Pengantar</span></strong></p>
<p>Salah satu tugas dan peran guru yang penting ialah mengelola kegiatan belajar siswanya, supaya mengalami perubahan hidup secara menyeluruh termasuk dalam aspek kognitif, afektif, spiritual dan psikomotoris.  Untuk tujuan itu, tugas guru bukan hanya terbatas pada menyampaikan bahan pengajarannya.  Dia bukan hanya berfungsi sebagai <em>instructor. </em>Guru juga berperan sebagai <em>manager of learning</em>. Supaya kegiatan pembelajarannya efektif dan efisien, haruslah didahului dengan pengelolaan yang baik. Menurut para ahli pembelajaran, tugas pengelolaan kegiatan belajar lazimnya termasuk: membuat rencana, membuat organisasi atau susunan, melaksanakan rencana, melakukan pengarahan dan membuat evaluasi dan pengawasan.<span id="more-13"></span></p>
<p>Bahwa kegiatan belajar agama Kristen harus dikelola dengan pendekatan aktif, pertama sekali  dapat kita lihat dari prinsip pendidikan dalam Ulangan 6:6-9. Orangtua atau pengajar harus mengajari anak secara berulang-ulang, dengan percakapan, dengan memperlihatkan sesuatu, dengan kegiatan menuliskan, memakai sesuatu. Kegiatan itu perlu terjadi dalam konteks ruangan (di rumah) atau di luar ruangan (perjalanan).  Kemudian, Alkitab mengajarkan bahwa  Yesus Kristus Tuhan, telah memperlihatkan bagaimana Ia mengajar secara aktif dan kreatif di masa lalu.  Keempat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) mencatat bahwa Yesus menjadikan para murid aktif dalam kegiatan belajarnya. Mereka mendengar, melihat, mengalami, merasakan, melakukan, berjalan bersama Yesus, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dll. Para murid belajar dari Yesus di rumah ibadat, di ladang gandum, di rumah, di jalan, di tepi danau, di gunung (bukit), di perahu, dll. Banyak lagi kisah yang dapat kita pelajari dari keempat Injil.</p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">Cara belajar aktif &#8211; apa itu?</span></strong></p>
<p>Karena kita berbicara mengenai pengelolaan belajar aktif, maka adalah baik membicarakan ciri khas dari kegiatan belajar aktif itu sendiri.  Dengan mudah kegiatan belajar aktif dapat dibedakan dengan kegiatan belajar pasif.  Dalam kegiatan belajar aktif guru dan murid sama-sama giat dalam berinteraksi baik dengan atau di sekitar bahan pengajaran maupun diantara mereka sendiri.  Dalam kegiatan belajar pasif, biasanya hanya guru yang aktif menerangkan, berceramah, bercerita, sedangkan murid mendengar dan mencatat. Guru seringkali kelelahan dalam melaksanakan tugas itu, karena semua bertumpu kepada dirinya. Nanti pada waktu ujian, para murid berusaha kembali mengingat apa yang diceritakan guru, apa yang dicatatanya di buku, untuk menjawab atas soal-soal.</p>
<p>Dalam dunia pendidikan di Indonesia kita mengenal istilah cara siswa belajar aktif (CBSA). Ini istilah populer di awal tahun 80-an, sebelum kurikulum berbasis kompetensi (KBK) bergema. Sebuah sumber memberikan pengertiannya sebagai berikut: &#8220;CBSA merupakan proses kegiatan belajar-mengajar dimana peserta didik mengalami keterlibatan intelektual-emosional disamping keterlibatan fisik di dalam proses belajar-mengajar&#8221; (Rusyan, dkk., 1989:104-105).</p>
<p>Mengutip gagasan tokoh pendidikan dari Malang, Prof. Raka Joni, Dr. Oemar Hamalik mengemukakan bahwa kegiatan belajar CBSA dapat dilakukan dengan kegiatan seperti mendengarkan, berdiskusi, membuat sesuatu, menulis laporan, memecahkan masalah, memberikan prakarsa/gagasan, menyusun rencana, dan sebagainya. .. Setiap kegiatan tersebut menuntut keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran melalui asimilasi, dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta pengalaman langsung dalam rangka membentuk kertrampilan (motorik, kognitif, dan sosial), penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap (2001: 137).</p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">Ciri kegiatan belajar aktif</span></strong></p>
<p>Secara ringkas dapat dikemukakan di sini bahwa ada sejumlah sifat maupun ciri dari kegiatan pembelajaran aktif, yakni:</p>
<p>1 &#8211; Menekankan pentingnya kebermaknaan belajar untuk mencapai hasil belajar yang memadai.</p>
<p>2 &#8211; Menekankan pentingnya keterlibatan siswa di dalam proses belajar.</p>
<p>3 &#8211; Menekankan bahwa belajar adalah proses dua arah yang dapat dicapai oleh peserta didik.</p>
<p>5 &#8211; Menekankan hasil belajar secara tuntas. (Rusyan, dkk. 1989: 185)</p>
<p>Tampak dari butir-butir di atas, bahwa masalah kebermaknaan (<em>meaningful learning</em>) dalam belajar mendapat tempat penting.  Anak didik akan giat mengikuti aktivitas belajar di kelas, membaca sumber yang ditugaskan, mendengarkan uraian guru, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, melakukan tugas yang diberikan, jika memang mereka sadar apa maknanya bagi dirinya sendiri. Prinsip AMBAK (apa manfaatnya bagiku) sangat mendasar dalam rangka menwujudkan kegiatan pembelajaran aktif. Istilah ini juga digemakan oleh apa yang dinamakan sekarang ini sistem pembelajaran quantum (<em>Quantum learning</em>) .</p>
<p>Kalau guru hendak mengelola kegiatan belajar aktif bersama anak didiknya, maka sebaiknya ia memahami prinsip kerja belajar aktif itu sendiri, antara lain:</p>
<p>A &#8211; Mengarah kepada jenis interaksi belakjar-mengajar yang optimal.</p>
<p>B &#8211; Menuntut berbagai jenis aktivitas peserta didik.</p>
<p>C &#8211; Strategi belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.</p>
<p>D &#8211; Menggunakan multimetode (beragam metode).</p>
<p>E &#8211;  Menggunakan multimedia secara bervariasi.</p>
<p>F &#8211; Mengarah kepada multi sumber belajar (bukan hanya ceramah guru).</p>
<p>G &#8211; Menurut perubahan kebiasaan cara mengajar guru. (Rusyan dkk., 1989:141).</p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">Apakah tugas guru?</span></strong></p>
<p>Dengan peran sebagai pengelola pembelajaran, Abdul Madjid (2005) mengemukakan bahwa ada sejumlah aspek yang harus dikelola oleh guru dalam mewujudkan kegiatan belajar aktif, yaitu: mengelola siswa yang belajar, mengelola diri sendiri sebagai guru, mengelola kegiatan, lingkungan, dan bahan pengajaran. Gagasan itu secara singkat saya kembangkan di bawah ini berkaitan dengan tugas dan peran guru PAK.</p>
<p>1 &#8211; Pengelolaan diri guru. Meski Madjid menempatkannya pada urutan kedua, saya kira ini harus yang utama dipikirkan dan dilakukan guru PAK. Ia harus berdoa kepada Tuhan, menyerahkan diri termasuk pikiran, roh, emosi, suara hati, sikap dan kemampuannya di dalam memimpin kegiatan belajar. Selain itu, tentunya guru harus membuat rencana pembelajaran atau satuan pembelajaran. Adalah baik bila guru mempunyai catatan-catatan yang diberikan kepada murid untuk diperbincangkan. Guru harus sadar tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana harus mengerjakannya.</p>
<p>2 &#8211; Pengelolaan siswa yang belajar.  Artinya, guru memahami individu dan kelompok yang belajar. Berapa usia anak didik yang kita layani? Anak SD-kah? Siswa remaja SLTP atau SMA-kah? Apakah mereka umumnya cepat dalam belajar? Lambat? Minat mereka terhadap pelajaran PAK bagaimana? Kesiapan belajarnya bagaimana? Waktunya untuk belajar agama Kristen tepatkah? Apakah mereka belajar di siang hari setelah lelah dengan pelajaran lain? Apakah anak sulit bekerjasama atau mudah?  Bagaimana cara mengatasi masalah siswa dalam belajar? Misalnya, kalau tidak menaruh minat atau mengajukan pertanyaan aneh-aneh? Apa yang harus dilakukan?</p>
<p>3 &#8211; Pengelolaan pembelajaran. Upaya ini menghendaki supaya guru mengerti prinsip belajar yang baik, memahami dan memilih metode. Bagaimana guru melakukan ceramah, diskusi, pemecahan masalah, bercerita, membuat lukisan, demonstrasi, karyawisata, dan mengelola kegiatan kerjasama. Selain itu, guru mesti memahami tehnik pembelajaran (tehnik pembukaan, tehnik menyajikan, menerangkan, tehnik bertanya, dan tehnik mendorong agar anak bertindak).</p>
<p>Kegiatan belajar aktif sebagaimana dikemukakan di atas melibatkan berbagai potensi siswa dalam rangka membangkitkan kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, disiplin, kebiasaan. Maka dalam kegiatan harus dilakukan beragam aktivitas, termasuk:</p>
<ul type="disc">
<li>Aktivitas      melihat &#8212; (<em>visual</em>) membaca,      memperhatikan gambar.</li>
<li>Aktivitas      berbicara &#8212; (<em>oral</em>) menyatakan      pendapat, bertanyan, bercakap-cakap,</li>
<li>Aktivitas      mendengar &#8212; (<em>listening</em>)      mendengar uraian, percakapan, dusksi, musik, dll.</li>
<li>Aktivitas menulis &#8212; (<em>writing</em>) menulis cerita, kesaksian, karangan, mengisi angket,      dll</li>
<li>Aktivitas      menggambar &#8212; (<em>drawing</em>)      menggambar peta, membuat grafik, pola, dll</li>
<li>Aktivitas gerak &#8212; (<em>motorik</em>) bermain, melakukan percobaabn, mengknostruksi      sesuatu.</li>
<li>Aktivitas      emosional (<em>emotional</em>) menaruh      minat, merasa senang, bergembira, tenang,</li>
<li>Aktivitas spiritual (<em>spiritual</em>) &#8211; doa, kontemplasi, saat teduh, berbahasa roh?</li>
</ul>
<p>4 &#8211; Pengelolaan lingkungan kelas. Idealnya memang guru harus mengatur kelas, tata ruangan agar menjadi lingkungan yang kondusif dalam belajar &#8211; tempat duduk, kebersihan, kenyamanan, cahaya, penyusunan barang-barang. Tetapi, bagaimana kalau guru PAK mendapat ruang belajar di perpustakaan?  Bagaimana kalau di ruangan dekat WC?  Ah, banyak lagi masalah!</p>
<p>5 &#8211; Pengelolaan bahan ajar. Guru PAK harus memilih dan menetapkan bahan ajar apa yang tersedia atau yang belum, jenis bahan ajarnya (cetak &#8211; <em>handout</em>, buku, silabus, modul, lembar kegiatan siswa, brosur, foto/gambar, model, peta; audio &#8211; kaset, <em>disc</em>, radio; visual &#8211; video, film, peta, lukisan, orang;  interaktif). Dalam pengajaran agama Kristen, setidaknya guru menyediakan teks Alkitab yang harus dibaca, diselidiki atau dihafalkan.  Juga nyanyaian yang akan dikidungkan.  Bisa juga guru menyediakan kaset yang perlu didengarkan bersama untuk ditanggapi.</p>
<p>Sekedar sebagai pembanding terhadap pemikiran di atas, Dr Oemar Hamalik (2001) mengemukakan bahwa untuk membimbing anak aktif dalam kegiatan belajarnya, maka ada sejumlah tugas penting dari guru.</p>
<p>1-      Menyiapkan lembaran kerja siswa</p>
<p>2-      Menyusun tugas bersama siswa</p>
<p>3-      Memberikan informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan</p>
<p>4-      Memberikan bantuan dan pelayanan apabila siswa mendapat kesulitan</p>
<p>5-      Menyampaikan pertanyaan yang bersifat asuhan</p>
<p>6-      Membantu mengarahkan rumusan kesimpulan</p>
<p>7-      Memberikan bantuan dan pelayanankhusus kepada siswa yang lamban</p>
<p>8-      Menyalurkan bakat dan minat siswa</p>
<p>9-      Mengamati setiap aktivitas siswa. (h. 139)</p>
<p>Jadi, yang mau dikatakan di sini, peranan guru dalam mengelola aktivitas belajar aktif tidak saja sebagai penyaji informasi melainkan fasilitator, motivator, pembimbing, yang memberi kesempatan lebih banyak bagi siswa untuk terlibat dalam mencari dan mengolah informasi.</p>
<p>Pertanyaan sekarang: Bagaimanakah cara guru dalam mengelola kegiatan belajar aktif? Idealnya, ada sejumlah tugas yang harus dikerjakan guru PAK.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span>, guru harus menetapkan tujuan belajar &#8211; kompetensi dasar dan hasil belajar serta indikatornya. Kemampuan apa yang diharapkan dikembangkan siswa?  Apa ukuran kemampuan yang bertumbuh itu?</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kedua</span>, pengaturan waktu yang tersedia bagi kegiatan belajar. Waktu dalam satu catur wulan atau dalam satu semester; waktu dalam setiap kegiatan belajar, berapa lama?  Pertanyaan yang harus dijawab guru ialah: Cukupkah waktu untuk mewujudkan tujuan?</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ketiga</span>, pengaturan ruangan belajar, ukuran dan bentuk kelas, bentuk dan ukuran bangku serta meja,  jumlah siswa di kelas, jumlah siswa dalam setiap kelompok, jumlah kelompok di kelas.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Keempat</span>, pengaturan siswa dalam kegiatan belajar. Kegiatan belajar apa yang dilaksanakan, apakah individual atau kelompok?  Kalau kelompok harus ditetapkan berapa banyak dan bagaimana kriteriapnegelompokan &#8211; atas dasar kedekatan siswa dengan rekannya, menurutu kemampuan, menurut minat.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kelima</span>, menetapkan metode kegiatan, apa yang harus dilakukan? Biasanya sangat baik melalui diskusi, pencarian Alkitab, penyajian, dll.</p>
<p>A &#8211; Apakah metode yang menekankan kmounikasi satu arah dari guru kepada murid?</p>
<p>B &#8211; Apakah metode yang menekankan komunikasi dua arah hanya diantara guru dengan murid?</p>
<p>C &#8211; Apakah metode yang menekanka komunikasi mutli dimensi, daru guru kepada murid dan sebaliknya serta diantara murid?</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Keenam</span>, menetapkan dan melaksanakan evaluasi.</p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">Komponen satuan kegiatan belajar</span></strong></p>
<p>Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa mengelola kegiatan belajar aktif mempunyai arti merencanakan terlebih dahulu satuan pembelajaran. Berkaitan dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dewasa ini, maka komponen dalam sebuah satuan pembelajaran meliputi:</p>
<p>1 &#8211; Identitas mata pelajaran.</p>
<p>Nama pelajaran: &#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Kelas   : &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Semester/caturwulan: &#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Waktu: &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Jumlah pertemuan: &#8230;&#8230;..</p>
<p>2 &#8211; Kompetensi dasar</p>
<p>Kompetensi dasar: &#8230;&#8230;&#8230;.. (lihat kurikulum)</p>
<p>Hasil belajar/indikator: &#8230;&#8230;&#8230;. (lihat kurikulum)</p>
<p>3 &#8211; Materi pokok</p>
<p>Pokok-pokok bahasan: &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Teks Alkitab apa yang disampaikan: &#8230;&#8230;.</p>
<p>4 &#8211; Media/alat pembelajaran &#8211; guru mengemukakan apa yang menjadi sumber dan media pembelajaran.</p>
<p>5 &#8211; Strategi pembelajaran &#8212; guru menuliskan skenario atau tahapan-tahapan proses belajar yang diikuti oleh siswa, apa yang dilakukan guru dan apayang dilakukan siswanya.</p>
<p>A- Apa yang menjadi kegiatan awal pembelajaran?</p>
<p>B- Bagaimana membuka pelajaran supaya minat siswa dan motivasinya dibangkitkan?</p>
<p>C &#8211; Bagaimana meningkatkan kondisi belajar siswa?</p>
<p>D- Apa saja kegiatan inti &#8211; guna mempelajari pokok-pokok bahasan yang sudah ditetapkan? Apa kegiatan guru? Apakegiatan murid?</p>
<p>E- Apa yang menjadi kegiatan penutup?</p>
<p>6 &#8211; Penilaian dan tindak lanjut -</p>
<p>7 &#8211; Sumber bacaan  yang dapat dibaca murid.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p>Apakah Anda sudah berlatih merumuskan satuan rencana kegiatan pembelajaran berdasarkan kurikulum PAK KBK?</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Daftar bacaan: </span></p>
<p>Madjid, Abdul (2005). <span style="text-decoration:underline;">Perencanaan Pembelajaran</span>. Bandung: penerbit Remaja Rosdakarya.</p>
<p>Rusyan, Tabrani A., Atang Kusdinar., Zainal Arifin (1989). <span style="text-decoration:underline;">Pendekatan Dalam Proses Belajar </span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Mengajar</span>. Remadja Karya.</p>
<p>Hasibuan, J.J., Moedjiono (1986). <span style="text-decoration:underline;">Proses Belajar Mengajar</span>. Remadja Karya.</p>
<p>Robinson, D.N. Adjai (1988). <span style="text-decoration:underline;">Asas-Asas Praktik Mengajar</span>. Bhratara.</p>
<p>Hamalik, Oemar (2001). <span style="text-decoration:underline;">Kurikulum dan Pembelajaran</span> Bumi Aksara.</p>
<p>Davies, Ivor K (1987). <span style="text-decoration:underline;">Pengelolaan Belajar</span> Radjawali Press.</p>
<p>Hutabarat, Oditha R. (2004). <span style="text-decoration:underline;">Model-Model Pembelajaran Aktif Pendidikan Agama Kristen</span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">SD, SMP, SMA Berbasis Kompetensi</span>. CV. Bina Media Informasi.</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Bahan diskusi bersama guru-guru agama Kristen tingkat SLTP di Lembang, 25 Nopember 2005; dikembangkan dari bahan ceramah dan diskusi bersama guru  PAK di Bandung, pada tanggal 22 September 2005.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sadakata.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sadakata.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sadakata.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sadakata.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sadakata.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sadakata.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sadakata.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sadakata.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sadakata.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sadakata.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sadakata.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sadakata.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=13&subd=sadakata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/29/pengelolaan-belajar-aktif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c1c6709bd755c1f7cb1710e0700ed16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sadakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TEORI BELAJAR AKTIF DALAM PEMBELAJARAN PAK</title>
		<link>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/29/teori-belajar-aktif-dalam-pembelajaran-pak/</link>
		<comments>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/29/teori-belajar-aktif-dalam-pembelajaran-pak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 04:54:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sadakata.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[

(Oleh: Dr. B.S.Sidjabat)[1]

Pengantar
Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan dimana guru (pengajar) dan murid (pembelajar) berinteraksi, membicarakan suatu bahan atau melakukan suatu aktivitas, guna mencapai tujuan yang dikehendaki. Dr Oemar Hamalik mengartikan pembelajaran sebagai &#8220;suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur, yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran&#8221;. Juga dikemukakan bahwa pembelajaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=12&subd=sadakata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p align="center">(Oleh: Dr. B.S.Sidjabat)<strong><strong><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><strong><strong>[1]</strong></strong></a></strong></strong></p>
<p align="center">
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pengantar</span></strong></p>
<p>Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan dimana guru (pengajar) dan murid (pembelajar) berinteraksi, membicarakan suatu bahan atau melakukan suatu aktivitas, guna mencapai tujuan yang dikehendaki. Dr Oemar Hamalik mengartikan pembelajaran sebagai &#8220;suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur, yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran&#8221;. Juga dikemukakan bahwa pembelajaran merupakan &#8220;upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik&#8221;.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2">[2]<span id="more-12"></span></a></p>
<p>Salah satu unsur penting bagi guru PAK untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi pembelajaran yang direncanakan dan dikelolanya ialah pemahaman tentang konsep atau teori belajar.  Kalau guru memahami bagaimana individu dapat belajar secara lebih efektif, maka ia dapat membantu peserta didiknya mengalami kegiatan belajar dengan hasil optimal.  Kalau guru hanya menguasai bahan pengajarannya namun kurang mengerti cara efektif anak didik belajar, maka hasil kegiatan yang dikelolanya tentu bisa kurang memuaskan. Untuk tujuan itu, guru perlu terus  belajar dari berbagai teori belajar, dan meninjau secara kritis dan konstruktif manfaatnya dalam pembelajaran PAK.  Dalam kesempatan ini diperbincangkan sebuah teori pembelajaran aktif dari Dave Meier<a name="_ftnref3" href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Tentang belajar aktif</span></strong></p>
<p>Belajar aktif itu apa?  Apakah ada kegiatan belajar tidak aktif atau pasif? Sebenarnya semua kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif.  Tetapi mungkin saja di kelas seringkali ketika mengajar, guru hanya berbicara, bercerita, dan muridnya mendengar dan mencatat.  Komunikasi satu arah yang terjadi. Guru PAK seringkali bahkan bertindak seperti pengkotbah yang menyampaikan firman Tuhan di jemaat pada ibadah hari minggu.  Pendeta atau pengkotbath membacakan firman Tuhan lalu menguraikannya kepada jemaat.  Jemaat dalam kondisi itu hanya sebagai penerima, yang merenung dan mencermati serta mengolah pesan yang didengar bagi dirinya sendiri.  Tidak terlihat apa yang terjadi dalam diri warga jemaat itu. Tetapi kegiatan itu pun masih dapat dikatakan aktif, setidaknya dalam diri warga jemaat itu sendiri! Kecuali bila anggota jemaat tertidur.  Sebab tidak sedikit juga kegiatan kotbah yang justru membuat jemaat pulas tertidur.</p>
<p>Kegiatan belajar PAK di sekolah harusnya tidak demikian.  Tidak membuat murid tertidur.  Seharusnya kegiatan itu membuat siswa aktif, seperti: mendengar dan berbicara, melihat dan membaca, bahkan melakukan peragaan atau melakukan suatu aktifitas.  Diantara guru dan murid terjadi komunikasi multi arah. Prof. Mohamad Surya mengemukakan pengajaran akan bersifat efektif jika (1) berpusat kepada siswa yang aktif, bukan hanya guru; (2) terjadi interaksi edukatif diantara guru dengan murid; (3) berkembang suasana demokratis; (4) metode mengajar bervariasi; (5) gurunya profesional; (6) apa yang dipelajari bermakna bagi siswa; (7) lingkungan belajar kondusif serta (8) sarana dan prasarana belajar sangat menunjang<a name="_ftnref4" href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Sekarang, pertanyaannya ialah: Kegiatan apa sajakah yang termasuk ke dalam pembelajaran secara aktif? Mengutip gagasan Paul D. Dierich, Dr Oemar Hamalik mengemukakan delapan kelompok perbuatan belajar aktif.</p>
<p>1 &#8211; Kegiatan-kegiatan visual: membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, mengamati orang lain bekerja, atau bermain.</p>
<p>2 &#8211; Kegiatan-kegiatan lisan (oral): mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara, diskusi.</p>
<p>3 &#8211; Kegiatan-kegiatan mendengarkan: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan instrumen musik, mendengarkan siaran radio.</p>
<p>4 &#8211; Kegiatan-kegiatan menulis: menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat sketsa, atau rangkuman, mengerjakan tes, mengisi angket.</p>
<p>5 &#8211; Kegiatan-kegiatan menggambar: menggambar, membuat grafik, diagram, peta, pola.</p>
<p>6 &#8211; Kegiatan-kegiatan metrik: melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan (simulasi), menari, berkebun.</p>
<p>7 &#8211; Kegiatan-kegiatan mental: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, menemukan hubungan-hubungan, membuat keputusan.</p>
<p>8 &#8211; Kegiatan-kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang dan sebagainya.</p>
<p>(Hamalik, 1995:90)</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Mengapa harus kegiatan belajar aktif?</span></strong></p>
<p>Bahwa guru PAK harus berusaha mengelola kegiatan belajar aktif bersama muridnya ialah <span style="text-decoration:underline;">pertama</span>, karena hakekat manusia sebagai pribadi yang dinamis.  Alkitab mengemukakan bahwa Tuhan Allah menciptakan manusia sebagai pribadi multidimensi, memiliki roh, hati/jiwa (pikiran, perasaan/emosi, dan kehendak/kemauan), serta fisik (pancaindera) (bd. Kej 2:7; Ibr 4:12; 1 Tes 5:23).  Ketika anak didik berkumpul di kelas, berarti guru harus melayaninya dalam kegiatan belajar dengan mengaktifkan pontesi dirinya &#8211; pancainderanya, pikiran, perasaan, kemauan bahkan rohnya. Para murid juga harus mengalami kegiatan belajar itu sebagai kelompok (komunitas) umat beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Dimana dua, tiga orang berkumpul, di situ kehadiran Allah sangat nyata (bd Mat 18:19-20).  Sikap kesatuan dan persatuan harus ditingkatkan, supaya kegiatan kebersamaan itu bermakna.</p>
<p>Landasan <span style="text-decoration:underline;">kedua</span>, Tuhan Yesus sendiri sebagai Guru Agung, mengajari dan melatih murid-murid-Nya dengan kegiatan aktif.  Ada banyak kegiatan yang dilakukan Yesus termasuk: memberikan kotbah atau ceramah, mengemukakan perumpamaan, melakukan perbuatan kasih, menyatakan perbuatan kuasa dan mujizat, mengutus murid melakukan tugas tertentu, mendengarkan dan menjawab pertanyaan, bermain-main dengan anak kecil dan memberkati mereka, berdialog dengan tokoh-tokoh agama Yahudi.  Yesus mengajar murid-Nya tidak hanya pada satu lokasi seperti di sebuah rumah saja.  Ia mengajari mereka ketika di danau, di perahu, di perjalanan, di bukit, di Bait Allah dan di sinagog, atau di tempat orang menderita (kusta, dirasuk setan Gerasa), termasuk di taman Getsemane, di pengadilan Pilatus dan di Golgota. Dia mengajar di malam hari, di pagi, di siang dan sore hari.  Dia mengajar secara individual juga secara kelompok kecil, kelompok sedang (tujuhpuluh murid) dan masa besar (4000 dan 5000 orang).  Jika demikian, kalau guru PAK ingin membimbing murid lebih mengenal siapa Yesus Kristus, agar menjadi murid-Nya (bd Mat 28:19-20), maka keteladanan-Nya dalam mengajar harus terus menerus kita renungkan berdasarkan informasi keempat Injil!<a name="_ftnref5" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Landasan <span style="text-decoration:underline;">ketiga</span> ialah sifat remaja yang kita layani, sebagai pribadi-pribadi yang bertumbuh dan berubah dalam segi fisik, kognitif, emosional dan sosial.  Siswa remaja di tingkat SLTP yang berusia sekitar 13/14-15/16 tahun, menginginkan kegiatan aktif secara fisik, belajar dengan gerakan tubuh atau melakukan sesuatu.  Mereka menyukai kegiatan yang ceria dan menyenangkan (<em>fun activities</em>). Karena tengah berkembang dalam segi pola pikir dan pemahaman, remaja menginginkan diskusi, tanya jawab, dialog dengan guru atau diantara sesama rekannya.  Didorong oleh rasa ingin tahu (<em>curiosity</em>), remaja biasanya ingin mencari jawaban atas masalahnya sendiri, melalui penyelidikannya. Kegiatan belajar aktif melalui penyelidikan sendiri atau bersama rekan-rekan, cocok bagi mereka. Karena sifat mereka yang labil secara emosional, remaja membutuhkan variasi kegiatan belajar, termasuk suasana keakraban dan persahabatan. Seturut dengan perkembangan sosialnya, siswa SLTP membutuhkan kegiatan kebersamaan dengan rekan-rekannya. Remaja cenderung lebih banyak menerima masukan dari teman sebayanya<a name="_ftnref6" href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Akhirnya</span>, pandangan ahli-ahli pendidikan yang dikembangkan berdasarkan ilmu-ilmu sosial juga patut kita dengarkan. Oemar Hamalik misalnya, mengemukakan ada sejumlah manfaat atau kegunaan dari kegiatan pembelajaran aktif, antara lain:</p>
<p>1 &#8211; Siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.</p>
<p>2 &#8211; Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek kepribadian siswa.</p>
<p>3 &#8211; Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan para siswa yang pada gilirannya dapat memperlancar kerja kelompok.</p>
<p>4 &#8211; Siswa belajar dan bekerja berdasarkan minat dan kemampuan sendiri, sehingga sangat bermanfaat dalam rangka pelayanan perbedaan individual.</p>
<p>5 &#8211; Memupuk disiplin belajar dan suasana belajar yang demokratis dan kekeluargaan, musyawarah dan mufakat.</p>
<p>6 &#8211; Membina  dan memupuku kerjasama antara sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara guru dan orangtua siswa, yang bermanfaat dalam pendidikan siswa.</p>
<p>7 &#8211; Pembelajaran dan belajar dilaksanakan secara realistik dan konkrit, sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan terjadinya verbalisme.</p>
<p>8 &#8211; Pembelajaran dan kegiatan belajar menjadi hidup sebagaimana halnya kehidupan dalam masyarakat yang penuh dinamika. (1995: 91).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Teori belajar aktif Dave Meier</span></strong></p>
<p>Belakangan ini ada sebuah teori belajar aktif yang dinamakan teori holistik.  Dave Meier dalam bukunya <span style="text-decoration:underline;">The Accelerated Learning Handbook</span> (Kaifa, 2002), mengemukakan bahwa konsep guru mengenai siapa manusia yang diajarinya (murid) menentukan sekali terhadap kegiatan belajar yang direncanakan dan dikelolanya. Meier mengkritik kecenderungan pendidikan di Barat yang memandang manusia hanya sebagai tubuh dan pikiran. Aktivitas tubuh dan pikiran dipisahkan dalam kegiatan belajar. Pembelajaran sangat kaku.  Selain itu  pembelajaran individual amat ditekankan.  Cara berpikir ilmiah pun sangat diutamakan.  Peranan media cetak dalam belajar seperti buku sumber utama sangat ditekankan.</p>
<p>Dari penelitiannya, Dave Meier berpendapat bahwa  manusia memiliki empat dimensi yakni: tubuh atau somatis (S), pendengaran atau auditori (A), penglihatan atau visual (V), dan pemikiran atau intelek (I).  Bertolak dari pandangan ini ia mengajukan model pembelajaran aktif yang disingkat SAVI &#8211; <em>somatis, auditori, visual dan intelektual</em>.  Dengan pemahaman ini beliau mengajukan sejumlah prinsip pokok dalam belajar, yakni:</p>
<p>1 &#8211; Belajar melibatkan seluruh tubuh dan pikiran</p>
<p>2 &#8211; Belajar adalah berkreasi, bukan mengkonsumsi.</p>
<p>3 &#8211; Kerjasama membantu proses belajar.</p>
<p>4 &#8211; Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan.</p>
<p>5 &#8211; Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri.</p>
<p>6 &#8211; Emosi positif sangat membantu pembelajaran.</p>
<p>7 &#8211; Otak-citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis.</p>
<p>Sekarang, marilah kita simak pokok-pokok pikiran Meier, bagaimana prinsip kegiatan belajar berdasarkan prinsip SAVI itu.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, belajar somatis, belajar dengan bergerak dan berbuat. Apa sajakah yang dapat dilakukan? Jawabnya ialah:</p>
<p>* Membuat model dalam suatu proses.</p>
<p>* Secara fisik menggerakkan berbagai komponen dalam suatu proses atau sistem</p>
<p>* Menciptakan bagan, diagram, piktogram.</p>
<p>* Memeragakan suatu proses, sistem, atau seperangkat konsep.</p>
<p>* Mendapatkan pengalaman, lalu membicarakannya dan merefleksikannya.</p>
<p>* Melengkapi suatu proyek yang memerlukan kegiatan fisik.</p>
<p>* Menjalankan pelatihan belajar aktif (simulasi, permainan belajar, dan lain-lain)</p>
<p>* Melakukan tinjauan lapangan. Lalu menuliskan, menggembar dan membicarakan  apa yang dipelajari.</p>
<p>* Mewawancarai orang di luar kelas.</p>
<p>* Dalam tim, menciptakan pelatihan pembelajaran aktif bagi seluruh kelas.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, belajar auditori (A), kegiatan mendengar dan berbicara. Apa saja yang dilakukan dalam kegiatan?</p>
<p>* Membaca keras dari bahan sumber.</p>
<p>* Membaca paragraf dan memberikan maknanya.</p>
<p>* Membuat rekaman suara sendiri.</p>
<p>* Menceritakan buku yang dibaca.</p>
<p>* Membicarakan apa yang dipelajari dan bagaimana menerapkannya.</p>
<p>* Meminta pelajar memperagakan sesuatu dan menjelaskan apa yang dilakukan.</p>
<p>* Bersama-sama membaca puisi, menyanyi.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, belajar visual (V), kegiatan melihat, mengamati, memperhatikan. Apa sajakah kegiatan dalam pendekatan ini?</p>
<p>* Mengamati gambar dan memaknainya.</p>
<p>* Memperhatikan grafik atau membuatnya</p>
<p>* Melihat benda tiga dimensi.</p>
<p>* Menonton video, film.</p>
<p>* Kreasi piktogram</p>
<p>* Pengamatan lapangan</p>
<p>* Dekorasi warna-warni</p>
<p><strong>Keempat</strong>, belajar intelektual (I), kegiatan mencipta, merenungkan, memaknai, memecahkan masalah. Ada sejumlah kegiatan terkait dengan pendekatan ini, antara lain:</p>
<p>* Pemecahan masalah</p>
<p>* Menganalisis pengalaman, kasus</p>
<p>* Mengerjakan rencana strategis</p>
<p>* Melahirkan gagasan kreatif</p>
<p>* Mencari dan menjaring informasi</p>
<p>* Merumuskan pertanyaan</p>
<p>* Menciptakan model mental</p>
<p>* Menerapkan gagasan bagus pada pekerjaan.</p>
<p>* Menciptakan makna pribadi</p>
<p>* Meramalkan implikasi suatu gagasan.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Manfaat bagi guru PAK</span></strong></p>
<p>Teori dan prinsip belajar aktif di atas, perlu kita responi secara positif.  Adalah benar bahwa dalam kegiatan belajar berbagai aspek kedirian (persona) manusia harus dilibatkan.  Allah sendiri berbicara (mengajari) manusia dengan berbagai cara dan dalam pelbagai kesempatan (bd. Ibr 1:1-2; Ul 6:6-9).  Allah menghendaki kita kreatif dalam merencanakan dan mengelola kegiatan pembelajaran.  Menilai hasil kegiatan itu tentunya juga jangan hanya dari satu aspek, seperti dari segi intelektual anak didik.</p>
<p>Karena PAK terkait dengan masalah kerohanian atau spiritualitas, maka ia sedikit berbeda dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran lainya.  Alkitab mengajarkan manusia juga memiliki roh, hati dan suara hati dalam dirinya.  Jika roh manusia &#8220;dijamah&#8221; Allah yang adalah Roh (bd Yoh 4:24), maka kegiatan belajar menjadi sangat aktif dan penuh makna.  Kegiatan belajar menjadi transformatoris, membawa perubahan dari dalam keluar (proses <em>inside out</em>).  Jika tidak demikian, yang terjadi ialah proses <em>outside in</em> atau dari luar ke dalam. Anak didik hanya bersifat konformis terhadap apa yang diajarkan oleh guru kepadanya, dalam arti menerima supaya mendapat nilai (angka) bagus! Bagaimana caranya supaya murid mengalami kehadiran Roh Allah? Jawabnya, jika mereka menyambut Yesus ke dalam kehidupannya, karena mendengarkan berita Injil secara jelas (bd Ef 1:13,14; 1 Kor 15:3,4; Rom 8:9-11). Karena itu PAK perlu terus menjelaskan berita pengampunan dosa, berita anugerah kepada para siswa.</p>
<p>Kegiatan belajar PAK bersifat spiritual.  Karena itu bersama murid, guru harus giat berdoa, beribadah, memuji dan menyembah Dia.  Guru PAK hanyalah hamba Tuhan. Dia hanya perantara (imam) Sang Raja Kristus dengan murid (1 Ptr 2:9,10). Roh Kuduslah menjadi  pengajar sesungguhnya dalam diri orang percaya (Yoh 16:11-13; 1 Yoh 2:20,27). Pengakuan kita sebagai guru, kepada Pribadi Roh Tuhan ini sangat penting.  Kita juga berdoa supaya dipenuhi oleh-Nya (Ef 5:18), dipimpin dan berjalan menunaikan karya bersama Dia (Gal 5:16-18). Kita juga harus menjaga diri supaya tidak mendukakan Dia (Ef 4:30). Atau supaya tidak menghambat pekerjaan-Nya (1 Tes 5:20).  Kitab Kisah Para Rasul menyatakan bahwa ketika Roh Kudus hadir dan bekerja dalam hidup komunitas orang percaya, maka proses pembelajaran berlangsung dengan baik dan membawa perubahan hidup.</p>
<p>Guru hendaknya jangan memandang rendah pengalaman spiritual siswanya juga pergumulan yang dihadapinya.  Iman Kristen yang diperlukan oleh siswa remaja dewasa ini ialah yang sifatnya praktis, termasuk bagaimana menghadapi krisis dan konflik kehidupan di rumah, di sekolah dan diantara kawan-kawan. Guru harus bersedia mendengar apa yang mereka alami dan pergumulkan. Bahkan bersedia menyimak masalah mereka lebih dari yang diucapkan. Selanjutnya guru menuntun mereka menemukan jawaban dari firman Tuhan. Mengajak murid berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, mendoakan mereka, juga membukakan hati mereka kepada Dia.</p>
<p>Menjadikan diri teladan iman, adalah menjadi kerinduan siswa remaja yang kita layani. Siswa di usia ini sangat gemar mengamati kehidupan tokoh-tokoh di sekitarnya, menilai apakah layak didengar, diikuti atau tidak. Firman Tuhan sendiri mengatakan bahwa dalam melayani kaum muda, para pelayan harus menjadi teladan, model kehidupan <em>(live model</em>) (bd. Ti 2:6,7). Guru PAK harus menanamkan pengaruh melalui keteladanan hidupnya baik dalam perkataan dan perbuatan mengajar.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Akhir kata</span></strong></p>
<p>Mempelajari teori belajar menurut konsep-konsep keilmuan dan teori pendidikan adalah penting. Memahmi kebiasaan belajar yang kita amati dan terima dari masyarakat dan budaya juga harus kita cermati. Budaya kita menekankan pengamatan dan peniruan dalam kegiatan belajar.  Begitu pula dengan pentingnya kelompok atau peran orang lain. Kita banyak belajar di dalam kelompok.</p>
<p>Namun, hal itu jangan membuat kita meremehkan peran Roh Tuhan yang datang ke dunia menyaksikan pekerjaan dan pribadi Yesus Kristus.  Roh Kudus yang membuat orang mengerti pengajaran Alkitab, yang kita perbincangkan bersama anak didik.  Dimana Roh Kudus bekerja di situ terdapat aktivitas pembaruan (2 Kor 3:17,18). (SAM)</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Bahan diskusi bersama Guru PAK tingkat SLTP Jawa Barat, di Bandung, Kamis, 6 April 2006.</p>
<p><a name="_ftn2" href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat karya Oemar Hamalik, <span style="text-decoration:underline;">Kurikulum dan Pembelajaran</span> (Bumi Aksara, 1995), h. 70.</p>
<p><a name="_ftn3" href="#_ftnref3">[3]</a> Dave Meier, <span style="text-decoration:underline;">Accelerated Learning Handbook</span> (Bandung: KAIFA, 2002).</p>
<p><a name="_ftn4" href="#_ftnref4">[4]</a> Mohamad Surya, <span style="text-decoration:underline;">Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran</span> (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), h. 77-79.</p>
<p><a name="_ftn5" href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat karya J.M.Price, <span style="text-decoration:underline;">Yesus Guru Agung</span> (Bandung: LLB, tt).; juga karya klasik Herman Horne, <span style="text-decoration:underline;">Jesus The Teacher</span> yang direvisi oleh Angus M. Gunn (Kregel Publications, 1988)</p>
<p><a name="_ftn6" href="#_ftnref6">[6]</a> Untuk lebih jauh tentang aplikasi perkembangan remaja dalam pelayanan, lihat karya Mike Yaconelli &amp; Jim Burns, <span style="text-decoration:underline;">High School Ministry </span>(Zondervan, 1986). Karya John Santrock, <span style="text-decoration:underline;">Adolescence</span> (Jakarta: Erlangga, 2004) sangat baik dibaca oleh guru-guru PAK, memberi informasi perkembangan remaja.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sadakata.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sadakata.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sadakata.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sadakata.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sadakata.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sadakata.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sadakata.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sadakata.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sadakata.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sadakata.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sadakata.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sadakata.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=12&subd=sadakata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/29/teori-belajar-aktif-dalam-pembelajaran-pak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c1c6709bd755c1f7cb1710e0700ed16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sadakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERAN PEMERCAYA DI TENGAH MASYARAKAT YANG MAJEMUK</title>
		<link>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/25/peran-pemercaya-di-tengah-masyarakat-yang-majemuk/</link>
		<comments>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/25/peran-pemercaya-di-tengah-masyarakat-yang-majemuk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 01:34:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sadakata.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Pdt. Dr. Jopie Rattu., D. Th
Prawacana,
Allah memberkati Adam dan Hawa dan menyuruh mereka untuk memenuhi bumi, menaklukannya dan  memerintah atasnya. Taman Firdaus adalah tempat  hunian mereka    (Kej 2: 15). Dengan memberi nama terhadap binatang-binatang, Adam melaksanakan perintahnya sebagai wakil Allah (Kej 2: 19). Jadi, dua pasal awal dalam kitab Kejadian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=11&subd=sadakata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center">Pdt. Dr. Jopie Rattu., D. Th</p>
<p>Prawacana,</p>
<p>Allah memberkati Adam dan Hawa dan menyuruh mereka untuk memenuhi bumi, menaklukannya dan  memerintah atasnya. Taman Firdaus adalah tempat  hunian mereka    (Kej 2: 15). Dengan memberi nama terhadap binatang-binatang, Adam melaksanakan perintahnya sebagai wakil Allah (Kej 2: 19). Jadi, dua pasal awal dalam kitab Kejadian menegaskan tentang harmonisasi dan kehidupan yang indah tanpa dosa.  Namun dalam Kejadian 3: 7,  hubungan antara Pencipta dan ciptaan-Nya itu, berubah. Sejak itu, manusia harus mengusahakan  kehidupannya dengan peluh dan keringat (Kej 3: 17-19).<span id="more-11"></span></p>
<p>Paradoks dengan kejatuhan Adam dan Hawa yang  tragis, mengakibatkan dosa yang membelenggu manusia &#8211; air Bah adalah bukti kebejatan manusia (Kej 6-9) dan Menara Babel adalah  kejahatan terorganisir (Kej 11). Allah tidak berdiam diri atas kerusakan manusia. Freed H. Klooster mengatakan bahwa, &#8220;priode particular etnik di mulai dengan pemilihan Allah akan Abraham melalui keturunan Sem. Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan negerinya, dan kaum keluarganya, lalu Allah menjanjikan tanpa syarat kepadanya suatu  negri dan juga seorang anak yang melaluinya akan muncul suatu bangsa yang besar, dan Abraham akan menjadi berkat bagi semua bangsa (Kej 12: 1-3)&#8221; (1996: 225).</p>
<p>Perjanjian dengan Abraham bermuara pada generasi kedua, yaitu Yakub, anak kedua Ishak. Allah memberi nama baru menjadi Israel &#8211; dikumpulkan menjadi satu &#8211; di bawah leluhur Abraham.  Dengan demikian, perjanjian dengan Abraham  adalah perjanjian abadi &#8211; kasih karunia &#8211; yang berlangsung terus disepanjang sejarah sampai digenapi di dalam Kristus. Artinya, pemilihan Abraham dan menjadinya satu  bangsa &#8211; Israel, membuktikan konsistensi Allah terhadap ikat-janji-Nya pada Adam dan Hawa &#8211; Kej 3: 15.</p>
<p>Sesuai dengan judul tulisan ini, &#8220;Peran Pemercaya Di Tengah Masyarakat Majemuk,&#8221; maka tulisan  ini hanya menguraikan  bagaimana pengejewantahan dan peran pemercaya di tengah masyarakat yang majemuk di negeri ini. Indonesia, sebagai bangsa yang majemuk &#8211; keragaman agama dan budayawi &#8211; bertumbuh begitu cepat.  Arus perpindahan &#8211; urbanisasi &#8211; salah satu permasalahan yang tidak dapat kita hindari &#8211; apalagi jika terjadi perpindahan untuk memilih agama &#8211; kini menjadi masalah yang sangat signifikan &#8211; suatu tuntutan yang mendesak &#8211; sekalipun UUD 1945 memberi jaminan dan hak bagi semua warga negara &#8211;  sementara di sisi yang lainnya &#8211; sudah lebih dari seribu gereja yang ditutup, dibakar dan dirusak &#8211; dan pemerintah tidak dapat berbuat banyak bahkan mengeluarkan berbagai peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pendirian rumah ibadah. Namun dalam implementasinya terjadi kerancuan dan disalah-gunakan oleh kelompok-kelompok dengan menggunakan  jubah agamawi. Saya tidak akan membahasnya tetapi bagaimana peran  kita yang seharusnya sebagai warga negara dan melihat peluang  untuk tetap konsisten dalam memperagakan hidup Yesus kepada mereka yang adalah sesama kita juga.</p>
<p>Smith, sebagaimana dijelaskan oleh Howard,  bahwa, &#8220;kita harus saling belajar dan menghormati bahasa dan bentuk-bentuk gagasan pihak  yang  lain&#8221; (1999: 176).   Sebaliknya,   yang terjadi di dalam masyarakat adalah  tidak dikembang-tumbuhkan kesamaan (baca: implementasi UUD), maka impaknya adalah <em>distrust </em>&#8220;kecurigaan,&#8221;  &#8211;  arogansi &#8211; bukanlah menang-menang melainkan menang-kalah  &#8211; sebagaimana saat ini &#8211; lebih dikedepankan mayoritas-minoritas sebagai penentu  kebijakan. Namun, jika yang ditumbuh-kembangkan  kesamaan &#8211; kebebasan beragama &#8211;  dalam  tatanan kemajemukan agama dan multikultural  &#8211; budayawi maka akan  memunculkan kesepadanan &#8211; kesetaraan bahwa yang lainnya sekalipun tidak sama adalah sesama kita. Seharusnya, di sinilah peran pemerintah atau para elite dipemerintahan atau pemimpin bangsa.</p>
<p align="center">
<p align="center">KEHADIRAN YESUS MENGUBAH PRESPEKTIF KEKUNOAN                                              KE MASA KE-AKAN-AN</p>
<p align="center">
<p align="center">&#8220;Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat&#8221; (Galatia 4: 4)</p>
<p align="center">
<p>Perjanjian Lama kaya akan janji-janji &#8211; bukan hanya bagi pemulihan bangsa Israel &#8211; sebagai keturunan Abraham &#8211; umat pilihan-Nya, tetapi sekaligus janji akan kedatangan Mesias. Jika Perjanjian Lama hanya mengisahkan satu bangsa saja &#8211; sebenarnya ada juga bangsa-bangsa lainnya yang percaya terhadap Allah Israel namun kebangsaannya melebur ke dalam Israel &#8211; di Yahudikan yang disebut kaum  proselitism &#8211; sebagaimana Ruth dan juga Rahab. Berbeda dengan masa Perjanjian Baru, setiap bangsa &#8211; kaum, suku, bahasa  menjadi kekayaan &#8211; bagai  panorama &#8211; bagi kemuliaan Allah &#8211; melalui karya penebusan Yesus (Wahyu 5: 9; 7: 9). Pemercaya dalam  masa Perjanjian Baru  tidak dilebur-satukan melainkan setiap suku-bangsa bergerak dinamis &#8211; melintasi budayawinya tanpa perlu mengubah dan justru keunikannya digunakan oleh Tuhan untuk memberitakan  kasih karunia bahwa suku-bangsa lainnya juga   mendapatkan hak yang sama yaitu keselamatan (Yohanes 3: 16) di dalam Yesus, Kristus, Tuhan.</p>
<p>Fred H Klooster mengatakan, &#8220;Perjanjian Baru lebih mulia, itu adalah perjanjian dengan Abraham  yang  telah digenapi di dalam Yesus Kristus. Sekarang fungsi utama dari Perjanjian Baru adalah mengasuh warga-warga kerajaan Allah dari semua bangsa &#8211; baik Yahudi maupun non Yahudi. Semua orang beriman dengan demikian disebut anak-anak Abraham, yang dibenarkan hanya oleh iman saja, sama seperti Abraham&#8221; (Gal 3: 6-9)                     (1996: 239).</p>
<p align="center">TETAP MENYALAKAN LENTERA</p>
<p align="center">&#8220;hendaklah terangmu bercahaya di hadapan semua orang, supaya  mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga&#8221; (Matius 5: 16)</p>
<p align="center">
<p>Misi Allah ditujukan  kepada kita seperti  juga kepada sesama  kita.  Bosch  mengatakan bahwa, &#8220;misi Gereja ialah untuk untuk menerima mereka yang jauh sebagai sesama kita, mengakui sesama sebagai saudara-saudari kita, dan saudara-saudari sebagai putra-putri Allah&#8221; (1984: 33). Dengan kata lain, kita mengakui bahwa adanya kesepadanan &#8211; diantara sesama ciptaan &#8211; sebagaimana Allah, Pencipta menempatkan ciptaannya &#8211; sederajat sama tanpa adanya perbedaan. Berkoff mengatakan, &#8220;Gereja hanya dapat menjadi misi dengan berada di tengah dunia, dan pada saat bersamaan, menjadi berbeda dari dunia&#8221; (1979: 415 dikutip oleh Bosch hal 386).  Dalam arti, bahwa Gereja haruslah  peduli terhadap penderitaan sesamanya dan menghadirkan kerajaan Allah.</p>
<p>Paul Hiebert menegaskan bahwa, &#8220;kita melayani kita &#8211; sesama kita &#8211; seperti kita melayani diri sendiri &#8211; yang adalah sesama citra Allah  &#8211;  sebagai pendosa yang memperagakan hidup baru kepada sesama pendosa lainnya. Di sinilah, titik temu yang seharusnya ditumbuh-kembangkan diantara sesama kita. Sebagaimana, Stanley Samartha mengatakan bahwa, &#8220;komitmen iman Kristen sejati, adalah bergantung kepada iman tanpa menutup diri terhadap lingkungan disekitarnya&#8221; (Howard: 1999: 76). Sejujurnya, hal ini seringkali diabaikan oleh Gereja bahkan kesaksian pemercaya sangat buruk ditengah lingkungan masyarakat. Dari berbagai kasus yang terjadi di tengah masyarakat justru pada kitalah penyebabnya dan bukan  pada yang lainnya, sehingga masyarakat menolak kehadiran gereja.</p>
<p>Howard mengatakan. &#8220;dengan dialog &#8211; kita terbuka terhadap sesama &#8211; dan dituntut lebih jujur untuk lebih memperdalam  kerohanian kita. Menurutnya, prasyarat untuk dialog bukannya penyelarasan semua keyakinan melainkan pengakuan bahwa tiap-tiap orang beragama memiliki keyakinan yang teguh dan  mutlak, bahwa keyakinan-keyakinan mereka  berbeda&#8221; (1999: 75). Karena itu, saya merefleksikan tiga aspek yang perlu dijadikan acuan dalam menumbuh-kembangkan dialogis &#8211; bagaimana iman Kristen  &#8211; direfleksikan &#8211; <em>transkulturasi </em>- namun tetap berperan dinamis  &#8211;  ke dalam tatanan sesama anak bangsa, melalui pendekatan, <strong><em><span style="text-decoration:underline;">pertama</span>, aspek teologis  &#8211; </em></strong> citra-kesadaran diri bahwa  kita adalah  mahluk yang diciptakan dan kemanusiaan &#8220;kita&#8221; sama, <strong><em><span style="text-decoration:underline;">kedua,</span></em></strong> <strong><em>aspek psikologis</em></strong> &#8211;  diperlukan  wujud  nyata &#8211;  saling menghormati &#8211; tanpa menurunkan derajat  keluhuran dan kesucian batin &#8220;keyakinan kemasing-masingan kita&#8221; yang disebut  iman, yang <strong><em><span style="text-decoration:underline;">ketiga,</span></em></strong> <strong>aspek sosiologis</strong> &#8211; menyambung di titik yang terputus dan  menjalin kembali antar-hubung &#8211; kemajemukan dan  mengatasi masalah-masalah sosiologis yang muncul sampai ke akar rumput dan  mensikapinya dalam  tatanan kebersamaan dan bukan kemasing-masingan atau jalan sendiri-sendiri.</p>
<p align="center">ASPEK TEOLOGIS &#8211; KITA DICIPTA SEBAGAI MANUSIA YANG SAMA</p>
<p align="center">&#8220;Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya. Ia yang adalah                                            Tuhan atas langit dan bumi.&#8221; Kisah 17: 24a</p>
<p align="center">
<p>Alkitab menegaskan bahwa manusia adalah ciptaan Allah (Kejadian 1-2). Kesadaran sebagai  ciptaan dari pribadi Yang Esa &#8211; Yang disapa Tuhan akan menempatkan kita sebagai sesama yang sama. Artinya, sebagai manusia &#8211; &#8220;saya&#8221;  tidak lebih dari yang lainnya. Rasul Paulus menegaskan  ketika berada di Athena &#8211; di  Aeropagus, beliau menggunakan titik temu &#8211; kesamaan, yaitu &#8220;dari satu orang saja, Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka. Bahkan, beliaupun mengutip salah satu pujangga Athena,  &#8220;sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita  ada, seperti yang telah dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: sebab kita ini dari keturunan Allah juga&#8221; (Kisah 17: 26; 28).  Titik temu &#8211; kesamaan &#8211; dan bukan menyerang  terhadap apa yang dipercayai oleh orang-orang Athena, dapatlah dijadikan rujukan atau dikedepankan.</p>
<p>Bosch menyimpulkan bahwa, &#8220;seluruh sejarah bangsa Ibrani mengungkap kesinambungan keterlibatan Allah dengan bangsa-bangsa. Allah bangsa Ibrani adalah Pencipta dan Tuhan seluruh dunia. Karena alasan ini bangsa Ibrani dapat memahami sejarahnya sendiri hanya di dalam kelanjutan dengan sejarah bangsa-bangsa, bukan sebagai terpisah&#8221;(1991: 18).</p>
<p>Lebih tegas lagi,  Yesus Kristus, mengatakan bahwa kemanusiaan kita sama dengan yang lainnya.  Ketika seorang Farisi bertanya kepada-Nya, &#8220;siapakah sesamaku manusia?&#8221;  Maka Yesus mengisahkan tentang seorang Samaria yang menolong seorang Yahudi yang menderita karena dianaiya oleh para penyamun.  Dan Ia bertanya kembali kepada orang yang bertanya itu, &#8220;jika seorang Samaria menolong orang Yahudi (baca: saudaramu &#8211; sebangsa denganmu itu), maka  menurutmu &#8211; &#8220;siapakah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?&#8221; (Lukas 10: 25-37).</p>
<p>Leslie Newbigin menulis, &#8220;titik temu yang nyata antara agama Kristen dan yang bukan Kristen bukan di dalam agama yang bukan Kristen, tetapi di dalam kemanusiaannya&#8221; (1958: 65). Jika, kita mengambil titik temu bahwa yang lain bukanlah kita maka usaha-usaha kita untuk membangun  jembatan rekonsiliasi &#8211; <em>transkulturalisasi</em> &#8211; akan memenuhi kegagalan. Sebaliknya, jika kita menempatkan yang lainnya adalah sesama kita, maka kesalah-pahaman, kecurigaan <em>distrust</em> dapat disingkirkan karena kita berasal dari sepasang manusia yang sama &#8211;  yang dicipta oleh SATU PENCIPTA yang SATU.</p>
<p align="center">ASPEK PSIKOLOGIS &#8211; SALING MENGHORMATI</p>
<p align="center">&#8220;Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan..&#8221;</p>
<p align="center">Amsal 4: 23</p>
<p align="center">
<p>Iman adalah pilihan &#8220;hak individu&#8221; yang berhubungan dengan pribadi yang transendental &#8211; yang disapa Tuhan &#8211; Debata (Batak) &#8211; Uis Neno (Timor) &#8211; Puang Matua (Toraja) &#8211; yang berarti Pencipta &#8211; Yang Tertinggi &#8211; Maha Besar, Tak Terbatas dstnya.                     Di dalam keyakinan atau kepercayaan ada hal-hal yang sangat esensial. Misalnya, dalam kekristenan &#8211; karya Yesus yang tersalib dan kebangkitan-Nya adalah inti berita iman &#8211; <em>statement of  faith</em> (1 Korintus 15: 3-4). Melalui  penebusan -Nya &#8211; seseorang pemercaya mengalami  kepenuhan <em>pleroma </em>(Yunani) &#8211; lahir baru <em>palingenesis</em> &#8211; dan arah hidupnya berubah (Roma 1: 16-17; 1 Petrus 2: 24).</p>
<p>Begitu pun dengan Alkitab &#8211;  wahyu  &#8211;  merupakan kebenaran historis yang diyakini bukan sebagai hasil olah-rasa manusia melainkan diilhamkan (2 Timotius 3: 16-17), dan diturun-alihkan &#8220;salinan-salinan &#8211; tulisan-tulisan dari para rasul&#8221; dari generasi ke generasi &#8211; dalam tradisi bapa-bapa gereja.  Di sinilah, yang seharusnya dihormati  &#8211; detak jantung yang menghidupi iman &#8211;  hak yang tidak boleh diintimidasi oleh siapapun. Akhir-akhir ini, maraknya diskusi-diskusi &#8211; mendialogkan &#8211; membedah  isi  iman  antar umat percaya &#8211; termasuk   &#8211; isi kitab suci &#8211; yang diwahyukan. Menurut pendapat saya &#8211; sah-sah saja, namun harus ada batasan-batasan <em>yellow line</em> yang perlu  disadari dikarenakan titik berangkatnya <em>prespektifnya </em> berbeda.  Misalnya, mengenai epsitimologi &#8220;tri-tunggal&#8221; &#8211; sebagai pemercaya, saya  tidak menemukan kerancuan &#8211; karena istilah &#8220;tri-tunggal&#8221;  tidak dapat dianalogikan (baca: bukan modalisme). Sedangkan,  bagi yang lainnya &#8220;tri-tunggal&#8221; membingungkan &#8211; tidak masuk akal dstnya. Artinya, dalam suatu kepercayaan &#8211; ada  yang dapat diungkap &#8211; logis &#8211; masuk akal atau &#8220;menyentuh &#8211; memuaskan akal&#8221; &#8211; dan ada yang tidak dapat menyentuh akal atau logis &#8211; bagi kepuasaan akal &#8211; inilah iman (Ibrani 11: 1-2).</p>
<p>Namun, dengan adanya dialog-antar-umat-beragama maka ada dua impak yang seharusnya dihasilkan, <em>pertama</em>,  keterbukaan &#8211;  untuk mengerti-menangkap isi-iman-sesama kita &#8211; agar kita mendapatkan informasi dari sumbernya, <em>kedua</em>, tidak melahirkan eksklusifisme rohani &#8211; melainkan menemukan keunikan &#8211;  sebagai kekayaan dalam keragaman dan sekaligus sebagai titik temu dalam pengejewantahan.</p>
<p>Karena itu, jubah primodialisme harus dilepaskan &#8211;  sebab yang diperlukan dalam tatanan  kesamaan adalah  teologi inkarnatif &#8211; identifikasi hidup di mana nilai-nilai iman yang tertampilkan adalah <em>life style</em> dan  menerima bahwa yang lainnya sama &#8211;  adalah manusia berdosa  yang membutuhkan  pemenuhan dari pribadi yang lebih besar dari dirinya yaitu Pencipta. Perhatikanlah, 1 Korintus 6: 19, &#8220;atau tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah&#8230;&#8221; Artinya, bukan hanya saya atau kita saja tetapi juga bagi yang lainnya, bahwa Roh Allah mau berdiam di dalam mereka. Sebaliknya jika jubah primodialisme dipakai  maka sang-aku terpenjara  ke dalam  homogenis-keeksklusifan-keagamaan dan tanpa kita sadari cenderung menghakimi dibandingkan menggarami, yang oleh Tylor disebut sebagai &#8220;<em>most complex whole</em>&#8221; &#8211; mengembangkan kebudayaan yang sempit di mana akan terjadi yang lebih kuat &#8220;merasa benar&#8221; cenderung untuk menekan dibandingkan menyadarkan                                        (Geertz: 1992: 4).</p>
<p>Stanley Samartha mengatakan bahwa, &#8220;mengakui  fakta pluralism agama berarti bahwa orang  tidak dapat mencari perlindungan dalam sikap netral atau objektif.  Tidak ada helikopter  teologis yang dapat membantu kita untuk terbang diatas agama-agama lain dan memandang  ke bawah dengan penuh keangkuhan.  Oleh karena itu, pendirian kita harus tetap menjadi Kristen dan tetangga-tetangga kita juga bebas menyatakan pendirian mereka yang particular&#8221; (1999: 76-77). Di sinilah, peran yang seharusnya dan  menjadikan kita lebih kreatif dalam mengembangkan nilai-nilai yang memamng tidak ada pada yang lainnya.</p>
<p>Saya pernah memperhatikan,  seorang keturunan China yang menyembah patung dewa dan orang itu menuliskan doa-doanya di secarik kertas dan melemparkannya untuk menyentuh patung itu tetapi orang itu tidak berhasil mengenai patung itu &#8211; jarang yang berhasil -bagi saya hal itu  sangatlah  menyedihkan tetapi itulah keyakinan. Namun, pada saat yang sama,  saya pun disadarkan &#8211; <em>refleksi balik</em> &#8211; bahwa, untuk menemukan dan mendapatkan sesuatu sebagai seorang pemercaya &#8211; Kristen, saya  tidaklah harus menembus sesuatu, karena di dalam fakta, Yesus Kristus Tuhan, &#8220;Firman itu datang dan  tinggal diantara kita&#8221; (Yohanes 1: 1-3). Dengan kata lain, sebagaimana Yesus sendiri  menegaskan, &#8220;dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik banyak  orang datang kepada-Ku&#8221; (Yohanes 12: 32).  Artinya, hidup yang meninggikan Dia, sebagai surat terbuka yang dibaca dan akan memberi pesona besar bagi yang lainnya.</p>
<p>Karena kita adalah surat Kristus yang terbuka dan di baca oleh orang-orang seputar hidup kita maka  impak kehidupan kita seharusnya bukanlah kehangatan palsu melainkan kesejukan  &#8211;  saling  menghormati dan akan dirasakan sampai ketingkat  akar rumput &#8211; orang-orang diseputar kehidupan kita (Kisah 5: 13). Tantangannya,  apakah kita mau  terbuka dan menerima bahwa yang lainnya adalah sesama &#8211;  yang sama dan  setara.  Samartha mengatakan  bahwa, ‘biarkanlah beberapa pintu tetap terbuka sehingga bukan angin saja yang bebas ke luar masuk tetapi tetangga kita tidak sungkan untuk melangkah masuk ke rumah&#8221; (1999: 76).</p>
<p align="center">ASPEK SOSIOLOGIS &#8211; DIBUTUHKAN KEPEMIMPINAN BANGSA YANG NASIONALIS DAN PERAN KITA DALAM MENGEMBANGKAN HARMONISASI DIANTARA SESAMA</p>
<p align="center">&#8220;Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri&#8230;&#8221; Matius 22: 39</p>
<p align="center">
<p>Bangsa Indonesia tidak perlu lagi mencari landasan untuk mempersatukan semua elemen  &#8211; anak bangsa &#8211; karena Pancasila adalah dasar bersama.  Konsesnsus ini mengikat 230 juta penduduk yang bermukim di 17.506 pulau dengan 1400 bahasa dan dialek.  Dalam bahasan  aspek sosiologis &#8211; bagaimana mengembangkan harmonisasi diantara sesama anak bangsa maka saya menyimpulkan diperlukan  tiga syarat untuk menjadi  pemimpin bangsa &#8211; belajar dari pengalaman sebelumnya, <strong><span style="text-decoration:underline;">pertama,</span></strong> <em>berjiwa nasional</em>. UUD 1945 adalah bukti bahwa melalui kesatuan &#8211; menang-menang &#8211; tidak ada yang kalah &#8211; dan Pancasila dijadikan dasar negara &#8211; bukan agama. Para pendiri republik ini menyadari bahwa kesatuan hanya dapat diperoleh melalui kematian sang-aku &#8211; diri sendiri dan tidak ada agama yang dikorbankan &#8211; untuk menerima bahwa yang lainnya &#8211; adalah kita &#8211; sesama anak bangsa &#8211; maka yang dikedepankan adalah  kesepadanan  &#8211; sama-sama pewaris negeri yang sangat kaya dan indah ini, <strong><span style="text-decoration:underline;">kedua</span></strong>,  <em>berwawasan kebangsaan</em>. Soekarno, Presiden pertama RI, sebagai seorang yang beragama &#8211; ia berhasil melawan filosofi kolonialism-kapitalism-imprialism &#8211; melalui filosofi marhaenism (tidak-menggunakan  agama) &#8211; rakyat yang baru merdeka &#8211; bersemangat mengikis semua yang berbau penjajahan &#8211; dan pada waktu itu &#8211;  ia berhasil menarik hati rakyat dari Sabang sampai ke Maurouke  &#8211; dalam mempertahankan kesatuan bangsa. Pada masa era Soeharto, Pancasila diangkat kepermukaan dan dijadikan perlawanan  terhadap  faham komunisme &#8211; sebagai musuh bersama dan menjadi kekuatan yang besar.  Tatanan kemajemukan-ke-bhineka-an &#8211; namun-ika-satu &#8211; menumbuhkan rasa nasionalisme yang  kuat.  Ketika, kita mempunyai musuh bersama &#8211; bangsa asing &#8211; penjajah &#8211; maka terciptalah nyanyian &#8220;satu nusa &#8211; satu bangsa &#8211; padamu negeri dstnya,&#8221; yang mengikat-satukan  kita  dan  nyanyian ini menyatukan  jiwa-raga kita. Dan Pancasila dijadikan benteng pertahanan bangsa dan setiap 1 Oktober dideklarasikan sebagai Hari Kesaktian Pancasila &#8211; dengan dikibarkannya bendera merah putih, namun sangatlah disayangkan &#8211; kini seakan hilang tanpa bekas.</p>
<p>Justru yang terjadi  setelah  jatuhnya pemerintahan Soeharto (1998), paskah peristiwa Mei 1998, keadaan bangsa Indonesia semakin carut-marut. Ketika agama dikedepankan, muncul kelompok-kelompok primodialism agamawi maka konflik horizontal tidak dapat dihindari &#8211;  anak bangsa tercabik-cabik,  persaudaraan &#8211; kasih terhadap sesama meluntur  &#8211; yang muncul adalah kebencian &#8211; dendam dan kematian yang sia-sia, <strong><span style="text-decoration:underline;">ketiga</span><em>,</em></strong> <em>lemahnya hukum</em>. Dari banyak kasus yang terlihat dalam kasat mata, aparat negara &#8211; tidak dapat bersikap tegas.  Yang membuat saya prihatin adalah kelompok-kelompok berjubah agamawi itu begitu bebas berbuat apa saja &#8211; merusak, menghancurkan dan menganiaya tanpa ada sangsi hukum. Jika dibiarkan berlarut-larut maka bangsa ini akan mengalami perpecahan-ketidak-harmonisan &#8211; konflik horizontal  dan arah bangsa ini akan  di bawa semakin jauh dari konsesus founding father &#8211;  kesatuan yang mengikat-nasionalism-merah-putih.</p>
<p>Kini, gereja menghadapi tantangan yang serius &#8211; sekelompok orang tersebut  bukanlah musuh melainkan orang-orang  yang perlu dikasihi &#8211; karena itu,   para pemimpin gereja-lah yang seharusnya proaktif &#8211; memberi peran  positif &#8211;  bagaimana mensikapi perubahan &#8211; karena kita tidak lagi memiliki kepemimpinan yang  kuat  dan tegas sebagaimana dulu &#8211; komitmen terhadap nasionalism masih ada tetapi semakin tidak berdaya &#8211; dengan lahirnya perda-perda diberbagai daerah &#8211; dari tingkat kabupaten, kota dan propinsi.  Ed Silvoso mengatakan bahwa, &#8220;wajah sebuah kota merupakan cerminan dari gereja Tuhan di daerah itu. Maksudnya, seharusnya &#8220;gereja berperan positif dan mengubah atmosfir kota melalui para pemercaya di kota &#8211; bangsa dan negara.&#8221; Gereja, memang tetap melaksanakan panggilannya &#8211; karena itulah hakiki dari kehadiran-Nya &#8211;  mengeluarkan buah  kasih yang tulus dan bukan mencari aman &#8211; menyendiri &#8211; eksklusifisme &#8211; membangun menara gading sehingga menimbulkan gejolak sosiologis &#8211;  kecemburuan bahkan tidak menjadi terang dan menggarami masyarakat diseputarnya.</p>
<p align="center">SEKAPUR SIRIH</p>
<p align="center">&#8220;Tetapi hendaklah kamu  ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu&#8221; (Efesus 4: 32).</p>
<p align="center">
<p>Pelayanan imamat Israel (baca: Perjanjian Lama), terikat pada perjanjian Abraham adalah sarana penyataan Allah tentang keselamatan kepada suku-suku bangsa diseputar Palestina. Penyataan ini mencapai puncaknya dengan kedatangan Yesus dan tidak ada lagi penyataan Allah yang lebih besar dari ini (Ibrani 1: 3). Dengan demikian, Israel telah memainkan peran utama dalam sejarah keselamatan bagi bangsa-bangsa. Menurut van Leeuwen, &#8220;Israel&#8230;&#8230;.. mewakili semua umat manusia dalam kesatuannya dan perserakannya, dalam kesombongannya, dosanya, kejatuhannya&#8230;.. Israel adalah pelopor bangsa-bangsa. Sejarahnya adalah pusat dan lambang dari semua sejarah dan merupakan  pernyataan tujuan-tujuan Allah bagi semua manusia&#8221; (1996: 415).</p>
<p>Dulu, semua kaum, suku-suku bangsa, bahasa, dilebur-satukan ke dalam &#8211; proselitism &#8211; namun, di era Perjanjian Baru, Gereja, <em>eklesia </em>ke luar memberkati suku-suku bangsa-bangsa, kaum dan bahasa &#8211; sesuai pernyataan Allah kepada Abraham. Peran kita berbeda dengan Israel masa lalu. Roh Kudus tidak hanya hadir di dalam setiap individu namun bergerak dinamis &#8211; menghidupkan sekaligus menyadarkan orang di luar kita. Di sinilah keunikan dan pesona hidup baru di dalam Yesus. Tidak ada pilihan  lain dan  hanya ada satu pilihan saja, sebagai pemercaya di negeri ini dalam mengejewantahkan iman kepada sesama yaitu teologi inkarnasi &#8211; bersedia melepaskan sang-aku &#8211; jubah eksklusifisme bahwa yang lainnya sama dan mereka adalah kita yang membutuhkan keselamatan sama seperti kita.</p>
<p>Sebagai seorang Kristen, saya tidak perlu mengatakan bahwa saya seorang  Kristen sebab dari tutur-kata dan gaya hidup  &#8211; <em>life style</em> &#8211; pasti memperagakan  nilai-nilai Injil. Karena &#8220;menjadi garam dan terang&#8221; adalah fungsi yang seharusnya dirasakan oleh yang lainnya dan bukanlah hanya untuk  kalangan sendiri. Dalam artian, saya tetap mensiarkan  kematian dan kebangkitan Yesus &#8211; karya penebusan &#8211; inti iman &#8211; namun  diimplementasikan melalui dinamika sukacita hidup sampai mata hati yang lainnya  terbuka dan akhirnya  menerima keTuhanan Yesus, sebagai juruselamat (Kisah 4: 12).</p>
<p>Daftar Pustaka:</p>
<p>Coward Harold, <em>Pluralisme Tantangan bagi Agama-Agama</em>, Yogyakarta: Kanisius</p>
<p>1997</p>
<p>Geertz Clifford, <em>Tafsir Budaya</em>, Yogyakarta: Kanisius</p>
<p>1992</p>
<p>Hiebert Paul,  <em>Iman dan Transformasi</em> <em>Budaya</em>, Flores: Nusa Indah</p>
<p>1996</p>
<p>Klooster, Fred H., <em>Metode Penyelamatan Sesuai Dengan Alkitab</em>, Malang: Gandum Mas</p>
<p>1996</p>
<p>Newbigin Lesli, <em>One Body, One Gospel, One World</em>, London: International Missionary</p>
<p>Council</p>
<p>1958</p>
<p>Sastrapratedja ed, <em>Manusia Multi Dimensional</em>, Jakarta: Gramedia</p>
<p>1982</p>
<p>Sobary Mohamad, <em>Kebudayaan Rakyat</em>, Yogyakarta, Benteng Budaya</p>
<p>1996</p>
<p>Verkuijl, <em>Samakah Semua Agama</em>, Jakarta: BPK Gunung Mulia</p>
<p>1965</p>
<p>Waltke, Bruce K,  <em>Janji-Janji Kerajaan Allah Bersifat Rohani</em>, Malang: Gandum Mas</p>
<p>1996</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sadakata.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sadakata.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sadakata.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sadakata.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sadakata.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sadakata.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sadakata.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sadakata.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sadakata.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sadakata.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sadakata.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sadakata.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=11&subd=sadakata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/25/peran-pemercaya-di-tengah-masyarakat-yang-majemuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c1c6709bd755c1f7cb1710e0700ed16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sadakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Management Konflik</title>
		<link>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/24/management-konflik/</link>
		<comments>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/24/management-konflik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 13:35:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sadakata.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Sridadi Atiyanto
Pengantar
Kata konflik sering dihubungkan dengan pertengkaran, perkelahian, pengrusakan, dst.  Pokoknya selalu memiliki konotasi negatif.  Contohnya konflik Ambon, tanpa berpikir mendalam setiap orang tahu apa yang dimaksud.  Demikian juga kalau kita dengar tentang konflik di gereja Anu, kita segera tahu apa yang dimaksudkan.
Konflik selalu melibatkan dua, atau lebih, sisi yang berlawanan, baik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=10&subd=sadakata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center">Sridadi Atiyanto</p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>Kata konflik sering dihubungkan dengan pertengkaran, perkelahian, pengrusakan, dst.  Pokoknya selalu memiliki konotasi negatif.  Contohnya konflik Ambon, tanpa berpikir mendalam setiap orang tahu apa yang dimaksud.  Demikian juga kalau kita dengar tentang konflik di gereja Anu, kita segera tahu apa yang dimaksudkan.<span id="more-10"></span></p>
<p>Konflik selalu melibatkan dua, atau lebih, sisi yang berlawanan, baik itu berhubungan dengan orang, peraturan, budaya, maupun benda-benda tertentu.  Menurut kamus Umum Bahasa Indonesia, konflik diartikan sebagai percekcokan; perselisihan; pertentangan; atau ketegangan<a name="_ftnref1" href="#_ftn1">[1]</a>.  Contoh sederhana adalah konflik batin, artinya bahwa dalam diri seseorang terdapat dua atau lebih gagasan atau keinginan yang saling bertentangan; hal ini biasanya akan sangat mempengaruhi tingkah lakunya.  Contoh lain adalah konflik sosial, artinya ada pertentangan/persaingan antaranggota masyarakat yang bersifat menyeluruh.</p>
<p>Konflik bisa terjadi manakala pihak-pihak yang bertentangan saling bertemu dan berbenturan.  Perbedaan, bahkan yang berlawanan (bertentangan) sekalipun, tidak selamanya berdampak negatif (asal tidak berbenturan), misalnya aliran listrik yang berbeda kutub (positif dan negative dalam listrik arus searah) akan menimbulkan tegangan, dan tegangan itu justru diperlukan untuk menghasilkan arus listrik.  Kalau sikon ini bisa diarahkan dengan baik akan menghasilkan hal yang berguna.  Ambillah contoh pada baterai, sewaktu tegangannya masih kuat nyala lampu yang terpasang pada lampu senter akan menyala terang, sebaliknya, kalau tegangannya berkurang lampunya redup bahkan tidak akan menyala.  Tetapi jangan dikontak langsung, akan terjadi benturan yaitu &#8220;kortsluiting&#8221; atau hubung-pendek dan hasilnya&#8230; kerusakan.</p>
<p>Dalam makalah ini yang dimaksud dengan konflik (atau pertentangan) adalah suatu proses yang mulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif, atau akan segera mempengaruhi secara negatif, sesuatu yang menjadi perhatian pihak pertama (Robbins, Stephen P., <span style="text-decoration:underline;">Organizational Behavior: Concepts, Controversies, Applicatons</span>, 8<sup>th</sup> ed., Prenhall 2002, p. 90).  Artinya bahwa bila dalam suatu kegiatan yang tengah berlangsung terdapat titik interaksi yang &#8220;saling bersilanganan,&#8221; titik tersebut berpotensi menjadi konflik antar pihak.  Konflik yang terjadi bisa berbentuk kasar, terbuka, dan penuh kekerasan atau pun halus dalam bentuk ketidaksepakatan.</p>
<p>Sebelum saya berlanjut perlu saya informasikan dahulu bahwa yang saya maksudkan dengan &#8220;managemen konflik&#8221; di dalam makalah ini adalah bagaimana mengatur, mengarahkan, dan mengelola perbedaan (bahkan pertentangan) yang ada dalam organisasi sehingga menghasilkan hal yang positif dan bermanfaat.  Jadi bahasan kita akan banyak berkisar pada masalah organisasi dan kepemimpinan.</p>
<p><strong>Tiga Pandangan tentang Konflik</strong></p>
<p>Dunia organisasi mengenal tiga pandangan tentang konflik, dan masing-masing memiliki argumentasinya sendiri-sendiri untuk membenarkan pendapatnya.  <em>Pertama</em>, pandangan tradisional.  Pandangan ini menekankan dan mempercayai bahwa semua konflik itu buruk.  Konflik dipandang secara negatif dan sering disinonimkan dengan kekerasan, perusakan dan ketidakrasionalan demi memperkuat konotasi negatifnya.  Pokoknya konflik selalu merugikan dan harus dihindari.</p>
<p>Pandangan ini berjaya pada dasawarsa 1930-an.  Konflik dianggap sebagai hasil dari komunikasi yang buruk, kurang keterbukaan, dan kepercayaan antara orang-orang dengan para manajer.  Sebaliknya para manajer dianggap tidak tanggap terhadap kebutuhan para karyawan.</p>
<p><em>Kedua</em>, pandangan &#8220;human relation,&#8221; yang menyatakan bahwa konflik merupakan peristiwa yang wajar dalam setiap kelompok dan organisasi.  Konflik diterima sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan, oleh karena itu konflik harus diterima.  Konflik bisa menjadi pemacu kinerja (performance) kelompok.</p>
<p><em>Ketiga</em>, pandangan Interaksionis, yang berpendapat bahwa konflik bukan hanya sebagai hal yang tak terhindarkan dan memiliki kekuatan positif, melainkan sebagai hal yang mutlak perlu dalam setiap kelompok/organisasi agar dapat berkinerja efektif.  Menurut pandangan ini, konflik justru diperlukan agar gagasan atau ide-ide segar dan baru selalu dimunculkan.  Organisasi tidak mandek sebab selalu terbuka untuk menerima gagasan-gagasan segar dari banyak pihak. Sifat demokrasi dalam organisasi menjadi nampak dan &#8220;<em>yes man</em>&#8221; tidak akan dipakai lagi dalam organisasi.</p>
<p>Namun dalam hal ini perlu disadari betul bahwa konflik yang dimaksud oleh interaksionis adalah konflik yang bersifat fungsional, yaitu konflik yang bersifat konstruktif; bukan konflik disfungsional yang bersifat destruktif.  Memang garis perbedaan dua macam konflik ini tidak tegas dan jelas tetapi semua akan diukur dari yang dihasilkannya bagi organisasi (bukan secara individual).  Kita juga harus sadar bahwa pada satu waktu konflik fungsional dapat menjadi disfungsional di lain waktu.</p>
<p><strong>Proses Konflik</strong></p>
<p>Stephen Robbins menggambarkan proses konflik dengan lima tahapan: tahap pertama adalah adanya oposisi atau ketidakcocokan; kedua, kognisi dan personalisasi; ketiga, maksud; keempat, perilaku; dan kelima adalah hasil dari konflik tersebut.  Perhatikan bagan pada halaman berikutnya.</p>
<p>Jadi langkah pertama untuk memulai proses ke-konflik-an adalah adanya kondisi atau situasi yang menciptakan kesempatan untuk lahirnya konflik itu.  Sikon ini dilahirkan dari tiga kategori umum: komunikasi, struktur organisasi/kelompok, dan variabel/keragaman pribadi yang terlibat dalam organisasi.</p>
<p><!--[if gte vml 1]&amp;gt; &amp;lt;![endif]--><img src="/DOCUME%7E1/Atiyanto/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.gif" alt="" width="624" height="247" /><!--[if gte mso 9]&amp;gt; &amp;lt;![endif]--></p>
<p>Untuk penjelasan tahap ketiga Robbins menggambarkan sebagai berikut:</p>
<p><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="108" height="0"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td><img src="/DOCUME%7E1/Atiyanto/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image004.gif" alt="" width="405" height="345" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!--[if gte vml 1]&amp;gt;&amp;lt;![endif]--></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sumber-sumber konflik</strong></p>
<p>Pada umumnya konflik dalam organisasi terjadi jika ada dua atau lebih pendapat yang berbeda atau bertentangan yang tidak dapat dikompromikan.  Jika masing-masing pihak tetap ngotot pada pendapatnya sendiri atau kelompoknya maka konflik itu akan berkepanjangan dan bisa membuahkan perpecahan yang merugikan.  Walaupun tidak ada perpecahan sekalipun dalam organisasi itu, jika konflik belum teratasi dengan tuntas maka akan terjadi hambatan-hambatan dalam bekerjasama.  Hasil yang diharapkan organisasi tersebut tentunya tidak maksimal.  Gereja, sebagai organisasi, tidaklah kebal terhadap masalah konflik ini.</p>
<p>Peter Wiwcharuck menggambarkan gereja, sebagai hasil risetnya, dengan &#8220;grafik lonceng.&#8221;  Dia memberi nama &#8220;Bell Curve&#8221; seperti ini:</p>
<p><!--[if gte vml 1]&amp;gt;--></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong>80%</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong>10%</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong>10%</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="145" height="0"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td><img src="/DOCUME%7E1/Atiyanto/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image005.gif" alt="" width="340" height="164" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!--[if gte vml 1]&amp;gt;&amp;lt;![endif]--></p>
<p>Artinya, bahwa gereja-gereja di seluruh dunia cenderung pada gambar di atas.  Sepuluh persen anggota gereja sangat aktif dan penuh dedikasi, sepuluh persennya lagi sangat pasif, bahkan cenderung menjadi oposan, suka mengeritik melulu; sedang yang delapan puluh persennya adalah penonton.  Konflik sering terjadi antara kelompok yang sepuluh persen itu, dan sedihnya kelompok ini berusaha mempengaruhi yang 80% sisanya.</p>
<p>Mengapa kebanyakan gereja mengkristal organisasinya seperti &#8220;grafik lonceng&#8221; itu?  Wiwcharuck melihat ada 3 penyebab umum, yang tentunya berpotensi menjadi sumber konflik, yaitu:</p>
<p>1.      Beberapa alasan mengapa &#8220;grafik lonceng&#8221; terjadi dalam gereja</p>
<p>a.       Filosofi (filsafat) kepemimpinan dalam gereja yang tidak tepat</p>
<p>i.      &#8220;ikutlah Aku&#8230;&#8221;</p>
<p>ii.      &#8220;Aku menjadikan kamu penjala manusia&#8230;&#8221;</p>
<p>iii.      &#8220;Pergilah kamu&#8230;&#8221;</p>
<p>b.      Biasanya gereja hanya berkisar pada perhimpunan, kehadiran dalam kebaktian dinilai sebagai kekristenan itu sendiri.</p>
<p>c.       Gereja tidak atau kekurangan tujuan yang jelas dan pasti</p>
<p>2.      Tiga prinsip dasar dalam kepemimpinan</p>
<p>a.       Pada umumnya orang hanya pergi ke mana pemimpinnya memimpin atau mengijinkan mereka pergi.</p>
<p>b.      Pemimpin hanya dapat membawa anggota sejauh ia sendiri &#8220;dapat/mampu&#8221; dan &#8220;mau&#8221; pergi.</p>
<p>c.       Kita perlu sadar bahwa <span style="text-decoration:underline;">tidak akan ada suatu pun yang terjadi tanpa ada kepemimpinan yang mendasarinya. </span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p><strong>Masalah yang timbul bisa memicu adanya konflik. </strong>Pada bagian ini kita akan belajar dan berdiskusi tentang tiga hal di bawah ini:</p>
<p>1.      Mengenal arti apa yang dimaksud dengan &#8220;masalah (problem)&#8221; itu.</p>
<p>2.      Mengembangkan sikap yang tepat dalam menghadapi masalah/konflik.</p>
<p>3.      Mengenal dan mengembangkan cara-cara mengatasi masalah/konflik.</p>
<p>Sangat sulit untuk membuat definisi tentang masalah sebab setiap orang mempunyai definisinya sendiri-sendiri tentang apa masalah itu.  Apa yang dianggap sebagai masalah oleh seseorang tidak selalu dianggap masalah bagi orang lain.</p>
<p>Walaupun demikian dapat kita ringkaskan arti dari &#8220;problem/masalah&#8221; itu (demi mengatasinya) sebagai berikut:</p>
<p><em>Masalah adalah kondisi atau situasi normal yang sudah berubah menjadi tidak normal karena&#8230;</em></p>
<p>1.      <strong>Salah pengertian</strong>.  Banyak masalah timbul karena orang salah mengerti tindakan atau perkataan orang lain atau salah mengerti tentang situasi dan kondisi.  Salah mengerti termasuk:</p>
<p>a.       Ketidakmampuan &#8220;melihat&#8221; dengan jelas</p>
<p>b.      Ketidakmampuan melihat semua factor atau unsur yang terlibat</p>
<p>c.       Salah mengerti tentang apa yang dimaksud atau apa yang dilihat</p>
<p>d.      Salah menafsirkan arti atau motive di balik perkataan atau perbuatan seseorang</p>
<p>e.       Ketidakcocokan</p>
<p>f.       Pertengkaran/perselisihan karena kurang puas atas jawaban atau tindakan seseorang</p>
<p>2.      <strong>Salah menafsirkan</strong>.  Banyak juga masalah yang muncul karena salah menafsirkan tindakan atau perkataan orang lain atau keadaan disekelilingnya.</p>
<p>3.      <strong>Kekacauan</strong>.  Semua data yang diperlukan tersedia tetapi tidak berurutan secara kronologis atau tidak sesuai urutannya dengan kebiasaan berpikir kita.</p>
<p>4.      <strong>Konfrontasi-konfrontasi</strong>.  Ini berarti ada hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan.  Hambatan itu bisa <span style="text-decoration:underline;">nyata</span> atau <span style="text-decoration:underline;">khayalan saja</span> (gambaran mental saja) seperti kekuatiran dan ketakutan.</p>
<p>5.      <strong>Kekurangan jawab yang diterima atau tidak sefaham (setuju) dengan pemecahan-pemecahan yang diterapkan (kurang informasi</strong>).  Dalam hal ini ada dua tipe jawaban: Tepat atau bisa diterima.</p>
<p>6.      <strong>Sikap yang salah atau tidak bersifat kristiani</strong>.<br />
Kesulitan-kesulitan tidak ada KECUALI kita menjadikan situasi normal berubah menjadi masalah.  Jika kita harus memilih antara berorientasi pada MASALAH atau SITUASI, kesulitannya bukanlah terletak pada APA yang sedang terjadi melainkan pada SIKAP kita menghadapi persoalan itu.  Contoh: Fanny Crosby.</p>
<p>7.      <strong>Keperluan secara fisik, psikologis, dan spiritual tidak terpenuhi</strong>.  Dalam hal ini perlu dipertajam perbedaan antara APA YANG DIPERLUKAN (sungguh-sungguh diperlukan) dengan APA YANG DIINGINKAN.</p>
<p>Masalah/problem sering hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan kegiatan kita tetapi ia dapat menghambat seluruh kegiatan untuk mencapai yang terbaik.  Seorang yang ahli mengatasi masalah akan mampu memisahkan &#8220;bagian kecil&#8221; itu dari keseluruhan operasionalnya.</p>
<p>Masalah menampilkan diri dalam:</p>
<p>v  Situasi yang nyata</p>
<p>o   Dialami saat ini</p>
<p>o   Dialami masa lalu</p>
<p>v  Situasi yang bersifat imajinatif</p>
<p>o   Situasi yang dibayangkan &#8220;dapat,&#8221; &#8220;bisa jadi,&#8221; atau &#8220;bakal&#8221; terjadi di masa depan</p>
<p>o   Situasi yang dibayangkan &#8220;tidak dapat&#8221; dan &#8220;tidak mungkin&#8221; bisa terjadi.</p>
<p>Apakah &#8220;masalah&#8221; itu sesuatu yang buruk?  Lihat Yakobus 1:2-5</p>
<p><strong>Situasi apa pun dapat menjadi masalah (dan menimbulkan konflik) jika&#8230;</strong></p>
<p>v  Kita merasa bahwa harus ada jawab atas persoalan itu tetapi kita tidak mendapatkannya.</p>
<p>v  Hal tersebut tidak dapat diterima sebagai bagian dari situasi yang normal.</p>
<p>v  Hal tersebut tetap tidak dapat terselesaikan dalam waktu yang cukup lama.</p>
<p><strong>Masalah yang buruk dapat menjadi pengalaman yang indah kalau&#8230;</strong></p>
<p>v  Kita percaya bahwa Yakobus 1 adalah benar</p>
<p>v  Akibat pengalaman itu dapat ditafsirkan sebagai &#8220;kemenangan&#8221; (meskipun Lazarus mengalami kematian tetapi menghasilkan kesaksian luar biasa tentang kemenangan Yesus atas kematian)</p>
<p>v  2 Korintus 8:1-3</p>
<p><strong>Persoalan-persoalan dalam kepemimpinan yang biasanya memicu konflik:</strong></p>
<p>1.      Masalah-masalah yang berhubungan dengan GAGASAN (Visi)</p>
<p>a.       Ketidakmampuan menciptakan gagasan (visi) yang baru</p>
<p>b.      Ketidakmampuan menangkap gagasan yang diciptakan orang lain (anggota)</p>
<p>c.       Ketidakmampuan menjabarkan gagasan menjadi hal-hal yang dapat dijalankan (menjadi praktis)</p>
<p><strong><em>Tidak sedikit pemimpin Kristen yang gagal pada bagian ini!</em></strong></p>
<p>2.      Masalah yang berkaitan dengan fasilitas (kekayaan).  Manusia banyak membuang waktu untuk bekerja &#8220;dengan&#8221; atau &#8220;bagi&#8221; kekayaan (fasilitas)-salah satu.</p>
<p>a.       Kekurangan fasilitas</p>
<p>b.      Mempunyai fasilitas yang salah</p>
<p>c.       Terlalu kaya (terlalu banyak fasilitas)</p>
<p>d.      Fasilitas yang rusak dan tak bisa diperbaiki</p>
<p>e.       Tidak tahu menggunakan fasilitas yang ada dengan semestinya.</p>
<p>3.      Masalah dengan orang</p>
<p>a.       Sikap</p>
<p>i.      Terhadap diri sendiri</p>
<p>ii.      Terhadap orang lain</p>
<p>iii.      Terhadap Tuhan</p>
<p>b.      Masalah kerohanian</p>
<p>i.      Kepekaan rohani</p>
<p>ii.      Respons terhadap hal-hal rohani (kepemimpinan rohani)</p>
<p>iii.      Kondisi rohani yang rusak (Roma 3:10)</p>
<p>iv.      Kehidupan doa</p>
<p>4.      Masalah dengan waktu (bandingkan dengan <em>Seven Habits</em> hlm 138-163)</p>
<p>a.       Kekurangan waktu</p>
<p>b.      Terlalu banyak waktu</p>
<p>c.       Salah menggunakan waktu</p>
<p>d.      Perbenturan waktu</p>
<p>5.      Masalah dengan kepemimpinan</p>
<p>a.       Kekurangan pemimpin (krisis)</p>
<p>b.      Kekurangan pemimpin yang baik</p>
<p>c.       Kekurangan pengembangan kepemimpinan</p>
<p>d.      Jabatan pemimpin yang tumpang tindih</p>
<p>e.       Kekurangan tanggapan yang memadai dari setiap jenjang kepemimpinan dalam organisasi</p>
<p>f.       Ada konflik dalam kepemimpinan atau antar pemimpin</p>
<p>g.      Ketidaksediaan atau ketidakmampuan pemimpin menilai keefektifan peran anggota (pemimpin lain yang di bawahnya)</p>
<p>6.      Masalah dengan iman</p>
<p>a.       Tidak beriman/kurang beriman</p>
<p>b.      Mencampuradukkan antara iman dan perasaan</p>
<p>c.       Keraguan/mendua hati</p>
<p><strong>Bagaimana kita memecahkan persoalan</strong>:</p>
<p>1.      <strong>Kita dapat mengabaikannya</strong>.  Kita telah membiasakan diri kita untuk mengabaikan masalah, untuk tidak melihat kebanyakan persoalan kita.  Seandainya kita tidak sanggup mengabaikan sesuatu, pasti kita semua akan masuk rumah sakit jiwa.<br />
<span style="text-decoration:underline;">Peringatan</span>: masalah-masalah kecil yang sering muncul kembali merupakan gejala adanya masalah tersembunyi yang lebih besar, sehingga persoalan-persoalan seperti itu perlu diselidiki.</p>
<p>2.      <strong>Kita dapat menghindarinya</strong>.  Sama seperti menghadapi seekor &#8220;skunk,&#8221; jika kita menyerangnya kita akan menciptakan masalah baru yang tadinya tidak ada.</p>
<p>3.      <strong>Kita dapat menjaga agar jangan timbul permasalahan</strong>.  Misalnya menyimpan korek api dimana anak-anak tidak dapat meraihnya.</p>
<p>4.      <strong>Kita dapat memecahkannya</strong>.  Tetapi ingat bahwa tidak setiap persoalan mempunyai pemecahan yang sama.</p>
<p>a.       Pemecahan melalui kesimpulan untuk situasi dimana sebenarnya tidak ada persoalan.  Misalnya, kalau timbul suatu kesalahfahaman, pengertian yang lebih baik dapat memecahkan atau mengakhiri persoalan.</p>
<p>b.      Pemecahan sebagai pemecahan (Lukas 11:5-8).  Misalnya seorang yang telah kehilangan kaki karena kecelakaan, maka ia membutuhkan kaki buatan (pemecahan praktis), bukan berarti ia tidak punya masalah.</p>
<p>5.      <strong>Kita dapat belajar hidup dengan persoalan itu</strong> (2 Korintus 12:8-10)  &#8212; Paulus memberikan suatu pemecahan praktis untuk kondisi krisis.  Apakah Allah mengubah kondisi itu?  Tidak!  Apakah Allah menolong Paulus memecahkan persoalan itu?  Tentu saja!  Allah menolong Paulus dengan jalan menunjukkan bahwa kondisi itu bermanfaat baginya sehingga Paulus menyetujuinya.  Dengan jalan itu Paulus <span style="text-decoration:underline;">menerima situasi yang tidak biasa sebagai situasi yang biasa</span> dalam hidupnya.</p>
<p>6.      <strong>Sikap kristiani terhadap masalah</strong>: Yakobus 1:2-5</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Tehnik Manajemen Konflik</span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="501">
<tbody>
<tr>
<td colspan="3" width="501" valign="top">
<p align="center"><strong>Tehnik Pemecahan Konflik</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="123" valign="top">Pemecahan masalah</td>
<td colspan="2" width="378" valign="top">Pertemuan tatap muka dari   pihak-pihak yang berkonflik dengan maksud mengidentifikasi masalah dan   memecahkannya lewat pembahasan yang terbuka.</td>
</tr>
<tr>
<td width="123" valign="top">Tujuan atasan</td>
<td colspan="2" width="378" valign="top">Menciptakan suatu tujuan bersama   yang tidak dapat dicapai tanpa kerja sama dari masing-masing pihak yang sedang   konflik.</td>
</tr>
<tr>
<td width="123" valign="top">Perluasan sumber daya</td>
<td colspan="2" width="378" valign="top">Bila konflik disebabkan oleh   kelangkaan sumber daya &#8212; misalnya uang, kesempatan promosi, ruang kantor &#8211;   perluasan sumber daya dapat menciptakan solusi menang-menang.</td>
</tr>
<tr>
<td width="123" valign="top">Penghindaran</td>
<td colspan="2" width="378" valign="top">Menarik diri dari (atau menekan) konflik.</td>
</tr>
<tr>
<td width="123" valign="top">Perataan</td>
<td colspan="2" width="378" valign="top">Mengecilkan arti perbedaan sementara   menekankan kepentingan bersama antara pihak-pihak yang berkonflik.</td>
</tr>
<tr>
<td width="123" valign="top">Kompromi</td>
<td colspan="2" width="378" valign="top">Tiap pihak yang sedang konflik itu   melepaskan (mengorbankan) sesuatu yang berharga.</td>
</tr>
<tr>
<td width="123" valign="top">Komando otoritatif</td>
<td colspan="2" width="378" valign="top">Manajemen menggunakan otoritas   formal untuk memecahkan konflik dan kemudian mengkomunikasikan keinginannya   kepada pihak-pihak yang terlibat</td>
</tr>
<tr>
<td width="123" valign="top">Mengubah variabel manusia</td>
<td colspan="2" width="378" valign="top">Menggunakan tehnik pengubahan   perilaku manusia misalnya pelatihan hubungan manusia untuk mengubah sikap dan   perilaku yang menyebabkan konflik</td>
</tr>
<tr>
<td width="123" valign="top">Mengubah variabel struktur</td>
<td colspan="2" width="378" valign="top">Mengubah struktur organisasi formal   dan pola struktural interaksi dari pihak-pihak yang berkonflik lewat desain   ulang pekerjaan, pemindahan, penciptaan posisi koordinasi, dan yang serupa   itu.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" width="501" valign="top">
<p align="center"><strong>Tehnik perangsangan konflik</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="156" valign="top">Komunikasi</td>
<td width="345" valign="top">Menggunakan pesan-pesan yang ambigu   (serba mendua) atau mengancam memperkuat tingkat konflik.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="156" valign="top">Memasukkan orang luar</td>
<td width="345" valign="top">Menambahkan karyawan yang latar   belakang nilai, sikap, gaya   manajerialnya berbeda dari anggota-anggota yang ada ke dalam kelompok.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="156" valign="top">Menstruktur-ulang organisasi</td>
<td width="345" valign="top">Mengatur-ulang kelompok-kelompok   kerja, mengubah tatanan dan peraturan, meningkatkan kesalingbergantungan, dan   membuat perubahan struktural yang serupa untuk mengacaukan status-quo.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="156" valign="top">Mengangkat pembela oposisi</td>
<td width="345" valign="top">Menunjuk seorang pengritik untuk   dengan sengaja berargumen menentang pendirian mayoritas yang dipegang oleh   kelompok itu.</td>
</tr>
<tr>
<td width="123"></td>
<td width="33"></td>
<td width="345"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p><em>Bacaan Penunjang</em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Memecahkan persoalan dengan kreatif</span> (Bina Sukses, AIDA, 3.1-3.24, makalah lembaran kerja yang tidak diterbitkan)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Matrix Managemen Waktu </span>(Covey, Stephen R., <em>The Seven Habits of Highly Effective People</em>, hlm. 141-160)</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, <span style="text-decoration:underline;">Kamus Besar Bahasa Indonesia</span>, Jakarta, Balai Pustaka 1989, hlm. 455.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sadakata.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sadakata.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sadakata.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sadakata.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sadakata.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sadakata.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sadakata.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sadakata.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sadakata.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sadakata.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sadakata.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sadakata.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=10&subd=sadakata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/24/management-konflik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c1c6709bd755c1f7cb1710e0700ed16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sadakata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME%7E1/Atiyanto/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.gif" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/Atiyanto/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image004.gif" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/Atiyanto/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image005.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PRINSIP PEDAGOGI DAN ANDRAGOGI</title>
		<link>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/21/prinsip-pedagogi-dan-andragogi/</link>
		<comments>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/21/prinsip-pedagogi-dan-andragogi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 04:38:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sadakata.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[ 
DALAM PEMBELAJARAN[1]
(B.S.Sidjabat, Ed.D)
Pengantar
Mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi pada jenjang program diploma atau sarjana umumnya berusia antara 18-24 tahun. Ahli psikologi perkembangan mengkategorikan kelompok usia ini sebagai dewasa awal (early adults). Gormly &#38; Brodzinski menyatakan bahwa pada usia ini orang muda memasuki periode pengambilan keputusan, dapat dianggap sudah dewasa namun belum mengambil banyak peran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=9&subd=sadakata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>DALAM PEMBELAJARAN</strong><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><strong><strong>[1]</strong></strong></a></p>
<p align="center">(B.S.Sidjabat, Ed.D)</p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">Pengantar</span></strong></p>
<p>Mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi pada jenjang program diploma atau sarjana umumnya berusia antara 18-24 tahun. Ahli psikologi perkembangan mengkategorikan kelompok usia ini sebagai dewasa awal (early adults). Gormly &amp; Brodzinski menyatakan bahwa pada usia ini orang muda memasuki periode pengambilan keputusan, dapat dianggap sudah dewasa namun belum mengambil banyak peran orang dewasa. &#8220;Youth age is an ‘optional&#8217; period of development in which an individual is legally an adult but has not yet undertaken adult work and roles,&#8221; demikian dituliskan (1993:396). Newman &amp; Newman (1987) mengemukakan sejumlah tugas perkembangan kelompok usia ini antara lain:<span id="more-9"></span></p>
<p>* autonomy from parents;</p>
<p>* sex roles identity;</p>
<p>* internalized morality;</p>
<p>* career choice;</p>
<p>* role experimentation;</p>
<p>* individual idenity versus identity confusion;</p>
<p>* work.</p>
<p>Sebagai orang dewasa cara belajar mahasiswa berbeda dengan cara belajar anak usia Sekolah Dasar (6-12 tahun). Cara berpikir mahasiswa tidak lagi bersifat &#8220;operasional-konkrit&#8221; tetapi sudah memasuki tahap &#8220;formal operational,&#8221; sehingga mampu berpikir hipotesis, kritis, reflektif dan konstruktif.  Tujuan belajar mahasiswa pun pada umumnya lebih jelas yakni mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja, atau mengembangkan karir di masa depan sesuai dengan potensi dan bakat serta minatnya. Pengalaman belajar masa lalu serta pengalaman kehidupan masa kini juga lebih tampak menyertai dan mempengaruhi kegiatan belajar yang ditempuhnya.</p>
<p>Setelah melakukan studi yang intensif mengenai berbagai aspek dan teori belajar orang dewasa, Merriam &amp; Caffarella (1999) mengakui bahwa cara belajar orang dewasa memang berbeda dengan cara belajar anak-anak.</p>
<p>&#8220;&#8230;that learning in adulthood can be distinguished from childhood in terms of learner, the context, and to some extent the learning process. Furthermore, it is not just that differences can be seen in these areas. Equally important, the configuration of learner, context, and process <em>together</em> makes learning in adulthood distinctly different from learning in childhood&#8230;&#8221;(p. 389).</p>
<p>Tugas perguruan tinggi bukan hanya menyampaikan pengetahuan (to inform) kepada mahasiswa untuk dihafalkan dan dilestarikan.  Perguruan tinggi juga bertujuan membentuk mahasiswa menjadi pribadi dan komunitas yang mampu berpikir kritis, memahami dirinya, mengembangkan potensi dirinya, sehingga kompeten dalam memecahkan masalah kehidupan yang sedang di hadapi dan di dalam tugas-tugas masa depan.  Pengajaran, riset dan pengabdian kepada masyarakat telah menjadi tiga tugas utama perguruan tinggi di Indonesia. Prof. Semiawan (1999) mengemukakan bahwa jika perguruan tinggi hendak membawa pembaruan hidup di tengah masyarakat maka strategi pembelajarannya haruslah kreatif guna membentuk mahasiswa yang mandiri dan memahami keutuhan dirinya. Wibowo &amp; Tjiptono (2002) mencatat pandangan sejumlah pengajar bahwa perguruan tinggi harus merupakan arena pembentukan kompetensi mahasiswa, yang mampu  mengkonstruksi pengetahuan, nilai dan keterampilan dalam rangka membawa pembaruan bagi masyarakatnya.  Dalam dunia perguruan tinggi, mahasiswa harus aktif, bukan pasif sebagai penerima pengetahuan guru dan buku sumber.</p>
<p>Jika perguruan tinggi mendidik dan mengajar mahasiswa dewasa maka pendekatannya haruslah sesuai dengan karakteristik mereka.  Orang dewasa harus dibimbing dengan pendekatan belajar orang dewasa pula.  Sejauh ini sudah banyak teori pembelajaran orang dewasa dikemukakan para ahli. Stephen D. Brookfield (1986) misalnya, mengemukakan konsep <em>self</em>-<em>directed learning</em> yang  harus menjadi ciri dan sifat serta tujuan pendidikan di kalangan orang dewasa. Lebih jauh dikemukakannya bahwa kalau orang dewasa hendak maju dalam kegiatan belajarnya, maka diperlukan enam prinsip mendasar yaitu: 1) voluntary participation; 2) mutual respect; 3) collaborative spirit; 4) action and reflection (praxis); 5) critical reflection; dan 6) self direction (pp. 11-20).</p>
<p>Tokoh lain, Jack Mezirow, mengusulkan pendekatan transformational atau emansipatoris. Menurut Cranton (1994) Mezirow memandang bahwa orang dewasa harus dimampukan untuk berpikir kritis dan mengevaluasi diri, mampu merevisi asumsi-asum lamanya dan pemahaman baru serta sudut pandang yang baru, agar sanggup melakukan tugas di dalam konteks sosialnya. Mezirow membangun konsepnya tentang pembelajaran orang dewasa berdasarkan penilitian terhadap 80-an ibu-ibu rumah tangga di Amerika yang kembali studi di perguruan tinggi. Dalam rangka <em>personal transformation</em>, Mezirow mengamati sejumlah tahapan yang lazim dilalui orang dewasa dalam kegiatan belajarnya, antara lain: 1) mereka perlu mengalami dilemma disorientasi; 2) melakukan pengujian diri sendiri; 3) menyimak bagaimana orang lain juga bergumul seperti dirinya; 4) menelusuri langkah baru dalam bersikap dan bertindak; 5) membangun kompetensi diri; merencanakan tindakan; dan 6) menjadi satu dengan masyarakat dengan cara pandang baru yang dimiliki.</p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">Pedagogi dan andragogi</span></strong></p>
<p>Salah satu teori belajar dan pembelajaran orang dewasa yang cukup terkenal adalah gagasan andragogi dari Malcom S. Knowles (1913-1997).  Pada tahun 1970 Knowles membedakan cara mengajar kepada anak yang disebut <em>pedagogi</em> dengan cara mengajar kepada orang dewasa yang dinamakan <em>andragogi</em>. Knowles berkeyakinan bahwa cara orang dewasa belajar sangat berbeda dengan cara anak belajar. Menurut Knowles, pedagogi berasal dari istilah Yunani <em>paid </em>(anak)<em> </em>dan<em> agogus </em>(membimbing); sementara andragogi dari istilah Yunani <em>aner</em>, <em>andr</em> (orang dewasa) dan <em>agogus</em>( pembimbing)<em>. </em>Pedagogy means specifically &#8220;the art and science of teaching children&#8221; while andragogy &#8220;is the art and science of helping adults learn.&#8221; (1970:37,38). Dalam pemahaman Knowles, untuk membina peserta didik dewasa cara mengajar untuk anak tidak berlaku lagi, atau haruslah ditinggalkan. Sebenarnya Knowles mengembangkan konsep belajar orang dewasa yang sebelumnya dibangun oleh Edward Lindeman (1885-1953) dalam karyanya <span style="text-decoration:underline;">The Meaning of Adult Learning</span>.</p>
<p>Akan tetapi di tahun 1980 Knowles<a name="_ftnref2" href="#_ftn2">[2]</a> merubah pemahamannya bahwa <em>pedagogi</em> dan <em>andragogi</em> tidak harus dipertentangkan, tetapi saling melengkapi dalam pendidikan orang dewasa. Pembelajaran orang dewasa menurut Knowles bahkan dapat bertolak dari pedagogi kepada andragogi. Tentang cara belajar orang dewasa, Knowles memiliki asumsi sebagai berikut:</p>
<p>1- Orang dewasa perlu dibina untuk mengalami perubahan dari kebergantungan kepada pengajar kepada kemandirian dalam belajar. Orang dewasa mampu mengarahkan dirinya mempelajari sesuai kebutuhannya.</p>
<p>2- Pengalaman orang dewasa dapat dijadikan sebagai sumber di dalam kegiatan belajar untuk memperkaya dirinya dan sesamanya.</p>
<p>3- Kesiapan belajar orang dewasa bertumbuh dan berkembang terkait dengan tugas, tanggung jawab dan masalah kehidupannya.</p>
<p>4- Orientasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari berpusat pada bahan pengajaran kepada pemecahan-pemecahan masalah.</p>
<p>5- Motivasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari pemberian pujian dan hukuman kepada dorongan dari dalam diri sendiri serta karena rasa ingin tahu.</p>
<p>Berdasarkan tulisannya di tahun 1993 perbedaan asumsi pedagogi dan andragogi yang dikemukakan Knowles itu dapat dikemukakan sebagai berikut:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="3" width="600" valign="top">
<p align="center">
<p align="center">ASSUMSI DASAR</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Tentang</strong></p>
</td>
<td width="214" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Pedagogis</strong></p>
</td>
<td width="187" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Andragogis</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Konsep diri peserta didik</td>
<td width="214" valign="top">Pribadi  yang bergantung kepada   gurunya</td>
<td width="187" valign="top">Semakin mengarahkan diri (self-directing)</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Pengalaman peserta didik</td>
<td width="214" valign="top">Masih harus dibentuk daripada digunakan sebagai sumber belajar</td>
<td width="187" valign="top">Sumber yang kaya untuk belajar bagi diri sendiri dan orang lain</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Kesiapan belajar peserta   didik</td>
<td width="214" valign="top">Seragam (<em>uniform</em>) sesuai tingkat usia dan kurikulum</td>
<td width="187" valign="top">Berkembang dari tugas hidup &amp; masalah</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Oriensi dalam belajar</td>
<td width="214" valign="top">Orientasi bahan ajar (s<em>ubject-centered</em>)</td>
<td width="187" valign="top">Orientasi tugas dan masalah   (<em>task or problem centered</em>)</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Motivasi bbelajar</td>
<td width="214" valign="top">Dengan pujian, hadiah, dan   hukuman</td>
<td width="187" valign="top">Oleh dorongan dari dalam diri sendiri (internal incentives, curiosity)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Knowles (1993) juga melihat perbedaan proses pembelajaran orang dewasa dengan anak-anak dalam tujuh aspek utama, yaitu suasana, perencanaan, diagnosa kebutuhan, penentuan tujuan belajar, rumusan rencana belajar, kegiatan belajar dan evaluasinya.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="3" width="608" valign="top">
<p align="center">UNSUR-UNSUR PROSES</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Suasana</td>
<td width="214" valign="top">Tegang, rendah dalam   mempercayai, formal, dingin, kaku, lambat, orientasi otoritas guru,   kompetitif dan sarat penilaian.</td>
<td width="195" valign="top">Santai, mempercayai, saling   menghargai, informal, hangat, kerjasama, mendukung.</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Perencanaan</td>
<td width="214" valign="top">Utamanya oleh guru</td>
<td width="195" valign="top">Kerjasama peserta didik   dengan fasilitator</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Diagnosa kebutuhan</td>
<td width="214" valign="top">Utamanya oleh guru</td>
<td width="195" valign="top">Bersama-sama: pengajar dan   peserta didik.</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Penetapan tujuan</td>
<td width="214" valign="top">Utamanya oleh guru</td>
<td width="195" valign="top">Dengan kerjasama dan   perundingan</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Desain rencana belajar</td>
<td width="214" valign="top">* Rencana bahan ajar oleh   guru</p>
<p>* Penuntun belajar (course</p>
<p>syllabus) dibuat guru.</p>
<p>* Sekuens logis (logical   sequence)</p>
<p>pembelajaran oleh guru.</td>
<td width="195" valign="top">* Perjanjian belajar (learning</p>
<p>contracts)</p>
<p>* Projek belajar (learning</p>
<p>projects)</p>
<p>* Urutan belajar atas dasar</p>
<p>kesiapan (sequenced by</p>
<p>readiness)</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Kegiatan belajar</td>
<td width="214" valign="top">* Tehnik penyajian (transmittal</p>
<p>techniques)</p>
<p>* Tugas bacaan (assigned   readings)</td>
<td width="195" valign="top">* Projek untuk   penelitian</p>
<p>(inquiry projects)</p>
<p>* Projek untuk dipelajari</p>
<p>(learning projects)</p>
<p>* Tehnik pengalaman</p>
<p>(experiential techniques)</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Evaluasi belajar</td>
<td width="214" valign="top">* Oleh guru</p>
<p>* Berpedoman pada norma (on   a</p>
<p>curve)</p>
<p>* Pemberian angka</td>
<td width="195" valign="top">* Oleh peserta didik   berdasarkan evidensi yang dipelajari oleh rekan-rekan, fasiltator, ahli. (by   learner-collected evidence validated by peers, facilitators, experts).</p>
<p>* Referensinya berdasarkan   criteria (criterion-referenced)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">Kebutuhan peserta didik harus diperhatikan</span></strong></p>
<p>Andragogi mengsumsikan bahwa orang dewasa belajar dengan efektif apabila kebutuhannya dikenali dan dipenuhi. Vlodkowski (1986) mengemukakan bahwa teori kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow yakni: <em>physiological needs, safety needs, love and belogingness needs, esteem needs, dan self actualization needs</em>, harus dipertimbangkan oleh pengajar di dalam merencanakan dan mengelola kegiatan belajar bersama orang dewasa.</p>
<p>Pengikut Knowles lainnya, Jane Vella (1993), menegaskan bahwa analisis kebutuhan harus menempati urutan pertama dalam kegiatan pembelajaran orang dewasa supaya terjadi relevansi dan makna. Memahami dan mengenali kebutuhan dari siapa yang akan mengikuti kegiatan belajar, menurut Vella, akan menentukan langkah dalam menentukan alasan, tujuan, isi, tempat dan proses pembelajaran. Vella mengusulkan <em>interview</em> dengan anggota kelompok atau yang mewakilinya dapat memberi masukan tentang minat dan kebutuhan belajar.</p>
<p>Sementara itu Knowles (1980) melihat ada dua jenis kebutuhan peserta didik, yaitu kebutuhan pribadi dan kebutuhan pendidikan. Kebutuhan pribadi itu adalah:</p>
<ol type="1">
<li><em>Physical      needs</em> &#8211; to see, to hear, to be comfortable, for rest at a minimum.</li>
<li><em>Growth      needs</em> &#8211; they are development in knowledge, understanding, skills,      attitudes,</li>
</ol>
<p>interests and appreciation. When people are aware of having new competencies they are motivated to learn.</p>
<ol type="1">
<li><em>The      need for security</em> &#8211; protection against threat to healthy self-respect      and self-image. &#8220;It</li>
</ol>
<p>is this need that motivates people to be coutious and reserved in a strange setting.&#8221; (p. 85). When this need is not met people may withdraw from participating in learning, or they may protect themselves by taking over, controlling and dominating.</p>
<ol type="1">
<li><em>The      need for new experience</em> &#8211; adventure, excitement, and risk; new      friends, new ways of</li>
</ol>
<p>doing things and new ideas. New experience brings people to find new friends, new interests, new ideas and new thing to do their tasks. &#8220;People tend to become bored with too much routine, too much security. When their need for new experience is frustrated, they tend to develop such behavioral symptoms as restlessness, irritability, impulsiveness, or indifference.&#8221; (p. 85).</p>
<ol type="1">
<li><em>The      need for affection or social needs</em> &#8211; close relationship with people      who will listen to</li>
</ol>
<p>ideas and feelings, as well as expectations. When people realized they are liked by others, they are motivated for self sacrifice, and cause them to cooperate with those with similar interests and needs.</p>
<ol type="1">
<li><em>The      need for recognition</em> &#8211; the need to have status, position in group; the      need to be</li>
</ol>
<p>admired, or respected by people for what one&#8217;s is doing (pp.84-87).</p>
<p>Kebutuhan pendidikan menurut Knowles ialah kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki peserta didik dengan kompetensi yang seharusnya dituntut oleh masyarakat atau lapangan kerja. Kesenjangan itulah yang harus dipenuhi melalui kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Pengetahuan apa yang dibutuhkan oleh peserta didik? Seberapa banyak pengetahuan yang dibutuhkan itu? Sikap dan nilai hidup apa yang diperlukannya? Kompetensi kepribadian, kecakapan dan keterampilan apa yang dibutuhkan untuk menunaikan tugasnya? Kalau kesenjangan kompetensi itu tidak diketahui, atau diabaikan, maka kegiatan belajar menjadi tidak relevan dengan kebutuhan peserta didik.</p>
<p>Disamping itu, Knowles mengemukakan adanya minat (<em>interest</em>) yang dibawa peserta didik ke dalam kegiatan belajarnya. Minat itu terkait dengan hal-hal yang disukai (<em>liking</em>) atau pereferensi (<em>preference</em>). Minat peserta didik jelas dapat berubah karena berbagai faktor yang mempengaruhi. Minat itu dapat saja terkait dengan dunia seni, olah raga, keagamaan, keterampilan tehnik, keterampilan sosial, dan kepribadian.</p>
<p>Menurut Knowles, ada banyak cara pengajar dan intitusi pendidikan untuk mengetahui kebutuhan dan minat peserta didiknya, antara lain:</p>
<p>1- From the individual themselves &#8211; through interviews, group discussions or questionnaire: projective questionnaire or sentence-completion questionnaire.</p>
<p>2 &#8211; From people in &#8220;helping roles&#8221; with individuals: konselor; tokoh agama; rohanian; wali mahasiswa; sponsor.</p>
<p>3 &#8211; From the mass media.</p>
<p>4 &#8211; From the professional literature: psikologi, sosiologi, antropologi, politik.</p>
<p>5 &#8211; From organizational and community surveys (1980: 93-100).</p>
<p>Menurut pemahaman saya, perkara lain yang patut diketahui para pengajar mengenai peserta didiknya ialah gaya belajar mereka.  David Kolb, salah satu dari sejumlah teori di bidang  ini, mengemukakan empat jenis gaya belajar. Kolb membangun konsep itu berdasarkan asumsi bahwa di dalam kegiatan belajar orang melibatkan empat aspek yaitu pikiran (konseptualisasi abstrak); perasaan (pengalaman konkrit); pengamatan (observasi reflektif); dan perbuatan (eksperimentasi aktif). Setiap individu menurut Kolb hanya mempunyai kecenderungan mengkombinasikan dua cara atau aspek, dan sebab itu muncullah empat jenis gaya belajar yakni: <em>the assimilator; the accommodator; the diverger; </em>dan<em> the converger</em> (Nasution, 1988:111-115).  <em>The assimilator, </em>membentuk pemahamannya dengan cara konseptualisasi abstrak (pemikiran, logika) dan observasi (pengamatan) reflektif. <em>The accommodator</em>, meningkatkan kompetensi dirinya dengan eksperimentasi aktif (apa yang telah dan sedang dikerjakan; tugas-tugas) dan pengalaman konkrit (nyata). <em>The converger</em>, membangun pengertiannya dengan cara berpikir atau konseptualisasi abstrak dan eksperimentasi aktif. <em>The diverger</em>, membangun pengetahuannya dengan pengalaman konkrit dan pengamatan reflektif.</p>
<p>Cara lain memahami gaya belajar itu ialah dari pendekatan <em>neuropsychology</em>. DePorter &amp; Hernacki (1992) mengemukakan bahwa menurut konsep ini manusia memiliki dua belahan otak, yakni otak kiri dan otak kanan yang fungsinya berbeda. Otak kiri merupakan tempat orang berpikir secara logis, berpikir linear, sistematik, tatabahasa, kalkulasi. Dengan belahan otak kanan orang merasakan, bekerja secara random (acak), menyukai irama, memahami ruang (space) dan gerak. Selain itu, orang menyusun persepsinya dengan dua cara, yakni: abstrak (ide, konsep) dan konkrit (contoh nyata, tindakan). Kombinasi dari dua aspek ini melahirkan empat gaya berpikir atau gaya belajar yakni:</p>
<p>1) <em>Sekuensial Konkrit (SK)</em> &#8211; dominasi otak kiri dengan persepsi konkrit &#8211; mengutamakan petunjuk kerja yang jelas; berpikir logis dan sistematis; juga praktis; serta cenderung bekerja sendirian (individual).</p>
<p>2) <em>Sekuensial Abstrak (SA)</em> &#8211; dominasi otak kiri dengan persepsi abstrak &#8211; teoritis, konseptual, menyukai gagasan sehingga kurang praktis; juga cenderung bekerja sendirian (individual).</p>
<p>3) <em>Acak Konkrit (AK)</em> &#8211; dominasi otak kanan dengan persepsi konkrit &#8211; membangun pemahaman bertolak dari evidensi, kenyataan; tidak menyukai hal-hal logis dan sistematis; atau lebih menuruti intuisi.</p>
<p>4) <em>Acak Abstrak (AA)</em> &#8211; dominasi otak kanan dengan persepsi abstrak &#8211; mengembangkan pemahaman bertolak dari suasana relasi; perasaan; kerjasama dengan orang; sulit di dalam menyusun gagasan secara logis dan sistematis.</p>
<p>Belakangan ini para ahli pendidikan mulai mencermati konsep <em>multiple intelligence</em> ahli pendidikan dari Universitas Harvard, Horward Gardner.  Menurut Gardner (1993) kecerdasan manusia tidak patut hanya diukur dari kemampuan linguistic dan matematis atau logikanya sebagaimana selama ini dilakukan para ahli psikologi. Berdasarkan hasil risetnya yang dilakukan lintas budaya, Gardner melihat tujuh macam kecerdasan manusia yaitu: 1) linguistik; 2) musikal; 3) logiko-matematik; 4) kinestesik; 5) spasial; 6) natural; 7) personal (interpersonal dan intrapersonal). Thomas Amstrong (1999) adalah salah seorang sarjana yang merumuskan alat uji (test) dalam hal kercerdasan berganda dari Ganrner ini, serta mengemukakan implikasinya dalam pendidikan dan pembelajaran.</p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">Bagaimana dengan penerapannya?</span></strong></p>
<p>Menerapkan pembelajaran cara <em>self directing</em> untuk mahasiswa di Indonesia bukanlah perkara mudah. Mahasiswa di Indonesia umumnya bertumbuh dalam budaya hierarkhis, dimana orangtua, guru, tokoh agama dipandang sebagai nara sumber utama dalam menambah pengetahuan. Sebab itu, mereka bergantung kepadanya. Sikap mental kemandirian kurang dikembangkan dalam keluarga dan sekolah di tanah air.  Karena itu, ketika peserta didik belajar di pergurun tinggi sekalipun mereka masih merasa harus digurui oleh pengajaranya, lebih cenderung mendapatkan petunjuk lengkap guna menyelesaikan studinya.</p>
<p>Kebanyakan pengajar juga bersikap demikian, yakni memandang tugasnya hanya mengajarkan informasi yang diketahui kepada peserta didiknya. Mereka mengikuti tradisi pembelajaran pedagogi yang pernah dilaluinya. Pada umumnya pengajar malah senang jika peserta didik menerima saja apa yang dikemukakannya, atau dianggap keliru apabila bila murid mempunyai pandangan berbeda. Hal demikian menyulitkan penerapan prinsip andragogoi dalam pembelajaran.</p>
<p>Dalam rangka membina peserta didik menjadi manusia dewasa, menurut hemat saya kedua pendekatan di atas dapat saja kita pergunakan. Saling melengkapi. Knowles (1993) bahkan menyatakan bahwa jika murid sama sekali baru dalam apa yang akan dipelajari, maka diperlukan pendekatan pedagogi. Artinya, pengajar harus memberikan informasi dasar terlebih dahulu. Dalam hal itu murid sangat bergantung kepada kualitas guru dalam mengajar dan memberikan penjelasan.  Akan tetapi, setelah peserta didik mendapatkan pengetahuan yang memadai, maka mereka harus dimotivasi untuk mengembangkan studinya secara mandiri atau bersama dengan kelompoknya. Studi kasus, pemecahan masalah, penyelesaian projek dapat membantu pengembangan kemandirian diri mereka itu.</p>
<p>Dalam sebuah kegiatan kuliah, pengajar dapat saja memberikan garis besar perkuliahan selama pertengahan semester atau dalam enam minggu pertama. Setelah mengevaluasi rencana dan kegiatan yang ditempuh, untuk enam minggu berikutnya, pengajar dapat memotivasi peserta didik  untuk melakukan studi mandiri atau berkelompok dan mereka menjadi sumber belajar. Kasus-kasus atau topik untuk disajikan dapat dirundingkan bersama-sama (<em>peer group learning</em>).  Penilaian dari kegiatan itu harus jelas, supaya nilai akhir kegiatan studinya tidak bergantung kepada ujian tengah semester atau ujian akhir semester belaka, tetapi porsi tugas dan studi mandiri lebih diperbesar. Dalam perkataan lain, prinsip akuntabilitas dari pengajar dibutuhkan.</p>
<p>Dalam rangka membantu peserta didik untuk mengalami perkembangan ke arah andragogi, yang sangat diperlukan adalah keterampilan belajar (<em>learning how to learn</em>). Peserta didik yang tidak mempunyai keterampilan belajar mempunyai kecenderungan bergantung kepada pengajarnya atau kepada sesama peserta didik lainnya.  Adalah baik dan bijak apabila pengajar memberi waktu untuk mendiskusikan cara-cara belajar efektif dalam mengembangkan mata kuliah atau bidang studi yang diampunya. Cara lain, pengajar menugaskan mahasiswa mengikuti lokakarya cara belajar efektif atau membaca buku petunjuk praktis seperti terkait dengan cara berpikir, membaca cepat, melakukan riset, merancang gagasan dan menyusunnya.</p>
<p>Selain itu, pengembangan pribadi dalam hal percaya diri (<em>self-concept</em>), perlu mendapatkan perhatian pengajar. Peserta didik yang kurang percaya diri enggan untuk bekerja dengan kemampuan dirinya, melainkan menggantungkan diri kepada bantuan orang lain. Mahasiswa dengan konsep diri rendah tidak mampu melihat potensi dirinya secara benar, sehingga mungkin dilanda perasaan tidak berdaya dan minder, atau sebaliknya merasa diri pintar padahal tidak demikian. Penanaman konsep dan sikap bahwa mereka mampu sebagai sumber belajar, patut ditekankan dan diteladankan oleh pengajar.</p>
<p>Mengakhiri uraian ini saya mengemukakan gagasan praktis dari Jane Vella (1994) yang telah mengembangkan gagasan Malcom Knowles di atas dalam kegiatan pembelajaran yang dikelolanya. Vella membuktikan bahwa prinsip andragogi di atas tidak saja berlaku untuk masyarakat di Amerika, tetapi juga di Afrika, Nepal, Indonesia dan berbagai tempat lainnya. Vella pun menegaskan bahwa prinsip andragogi tidak saja dapat dioperasionalkan dalam pembelajaran informal di luar sekolah atau kampus, tetapi juga di dalam konteks formal perguruan tinggi. Saya melihat Vella mengusulkan dua belas prinsip penting di dalam mengelola kegiatan belajar bersama orang dewasa.</p>
<p>1 &#8211; Agar pengajar melakukan analisis kebutuhan (<em>need assesment</em>) peserta didik sebagai langkah awal untuk berdialog dengan mereka. Pengajar dapat memilih sejumlah wakil dari kelompok besar untuk memberikan informasi mengenai kebutuhan peserta didik, selain memberikan questionnaire kepada semua anggota.</p>
<p>2 &#8211; Agar pengajar menciptakan suasana nyaman (<em>safety</em>) ketika berinteraksi dengan peserta didik; dengan jalan tetap hargai pendapat mereka dan melakukan koreksi; juga mendengarkan isi hati mereka, kebingungan, kegelisahan dan sejenisnya. Istilah <em>safety</em> lebih terkait kepada aspek psikologis.</p>
<p>3 &#8211; Agar pengajar terus membina hubungan akrab dengan peserta didik di dalam ruangan atau di luarnya dengan cara-cara yang sesuai dengan budaya mereka. Hubungan yang bersahabat antara guru dengan peserta didik harus mendapat tempat utama dalam kegiatan pembelajaran. Pengajar harus sadar bahwa ia tidak saja mengajarkan sesuatu kepada peserta didiknya, tetapi ia melakukan tugas pembelajaran diantara dan bersama mereka.</p>
<p>4 &#8211; Agar pengajar membawa peserta didik bertolak dari hal-hal sederhana kepada yang lebih kompleks; <em>sequence</em> pembelajaran harus jelas dari yang paling mudah kepada yang lebih bahkan sangat sukar. Ketika berhasil menguasai sebuah langkah ataupun konsep, pengajar patut menyatakan penghargaan bagi peserta didiknya, untuk menyiapkan atau tepatnya memotivasi mereka ke tugas berikutnya.</p>
<p>5 &#8211; Agar pengajar benyak melakukan aktivitas refleksi atas tindakan, atas kasus, atas simulasi sosial, atau atas tayangan yang disaksikan. Menurut Vella, kita dapat mengajukan empat pertanyaan untuk dipertimbangkan:</p>
<p>a) Apa yang Anda lihat terjadi (deskripsi)?</p>
<p>b) Mengapa hal itu terjadi (analisis)?</p>
<p>c) Jika hal itu terjadi dalam situasi Anda, apa penyebabnya (aplikasi)?</p>
<p>d) Apa yang dapat kita lakukan terhadap hal itu (implementasi)?</p>
<p>6 &#8211; Agar pengajar memandang peserta didik sebagai subjek dalam kegiatan belajar. Mereka bukan sebagai objek kosong yang harus dipenuhi informasi. Jika mereka diperlakukan sebagai subjek, maka pandangan, perasaan, sikap, opini mengenai bagaimana cara belajarnya yang tepat untuk mencapai hasil harus didengarkan dan difasilitasi. Peran pengajar bersama orang dewasa lebih berupa fasilitator pembelajaran.</p>
<p>7 &#8211; Agar pengajar senantiasa melibatkan dan menyentuh pikiran, perasaan dan sikap serta perbuatan peserta didik dalam aktivitas pembelajaran. Peserta didik tidak datang ke dalam perjumpaan bersama guru dengan membawa tubuh dan pikiran belaka, tetapi juga menghadirkan perasaan dan sikap.</p>
<p>8 &#8211; Agar apa yang dipelajari oleh peserta didik harus memiliki manfaat, relevan dengan hidup atau tugas sehari-hari. Walaupun yang dipelajari peserta didik hal-hal bersifat abstrak dan konseptual, namun pengajar dapat mengkaitkannya dengan situasi praktis atau dengan tugas dan tanggung jawab sehari-hari. Kalau orang dewasa melihat apa yang tengah dipelajari membawa manfaat, motivasi mereka berkembang.</p>
<p>9 &#8211; Agar pengajar mengembangkan dialog dalam pembelajaran, jika tidak demikian maka peran guru sebagai pengajar segera lenyap. Dialog menghendaki relasi kesahabatan juga kesediaan pengajar untuk menjadi satu level dengan peserta didiknya memperbincangkan masalah yang mereka hadapi.</p>
<p>10- Agar pengajar membangun kerjasama diantara peserta didik dalam kelompok kecil (<em>team work</em>). Peran guru memfasilitasi dan memotivasi agar kelompok bekerja dengan optimal. Menurut hemat saya ini cocok dengan pola hidup orang di Indonesia, lebih termotivasi belajar bersama rekan-rekan yang mengenal, memahami, menerima, membangunnya.</p>
<p>11 &#8211; Keterlibatan (<em>engagement</em>) guru dalam kegiatan belajar bersama peserta didik  membangun semangat belajar mereka. Belajar sebagai sebuah tindakan aktif dan keterlibatan. Kalau pengajar menugaskan sebuah kasus kepada kelompok kecil, ia juga harus terlibat bersama salah satu kelompok itu.</p>
<p>12 &#8211; Prinsip akuntabilitas merupakan kunci sukses belajar dan mengajar. Design pembelajaran seperti silabus harus terbuka kepada peserta didik, dapat distruktur ulang untuk mencapai tujuan. Apa yang disepakati untuk dilakukan mestilah dilaksanakan. Kegagalan maupun keberhasilan belajar dinyatakan secara terus terang namun bijaksana.</p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">Wacana akhir</span></strong></p>
<p>Dalam konteks pendidikan teologi seperti di Institut Alkitab Tiranus, banyak mahasiswa yang belajar sudah mempunyai pengalaman melayani di dalam atau bersama dengan gereja. Seharusnyalah pengalaman mereka itu dapat dijadikan sumber dan sarana di dalam kegiatan belajar, sehingga apa yang dipelajari menjadi menyenangkan dan bermakna. Memperlakukan mereka ibarat &#8220;botol kosong&#8221; yang harus diisi dengan informasi yang diketahui oleh pengajar, belum tentu relevan dengan kebutuhan individual dan kebutuhan pendidikan mereka. Mungkin mereka <em>conformed </em>saja kepada nilai-nilai dan pengetahuan pengajarnya supaya lulus dan memperoleh gelar, tetapi tidak mengalami trnasformasi.</p>
<p>Memang, cukup banyak peserta didik yang &#8220;masih hijau&#8221; dengan disiplin ilmu teologi.  Karena itu, pendekatan pedagogi tetap berguna dalam membimbing mereka hingga mampu mengembangkan diri untuk mendalami studi yang ditempuhnya. Keterampilan pengajar di dalam memotivasi peserta didik, dalam menjelaskan, menyingkapkan, menelusuri buku sumber bersama-sama, semuanya dibutuhkan. Pemahaman dan keterampilan dasar mestilah dikuasai olejh peserta didik. Akan tetapi, pendidik teologi harus selalu ingat bahwa tugas mereka yang utama ialah membuka jalan supaya peserta didik aktif di dalam kegiatan belajarnya.</p>
<p>Pendidikan dalam konteks sekolah tinggi teologi, sudah seharusnya bertolak dari mengajar kepada belajar (<em>from teaching to learning</em>). Mungkin sekali guru merasa sudah mengajar dengan segala usaha, namun melihat peserta didiknya tetap &#8220;bodoh&#8221; dalam arti tidak mampu mengikuti gaya berpikir sang guru karena tidak mampu menjawab kuis atau pertanyaan kognitif yang diajukan. Guru demikian merasa sudah mengajar dari pihaknya, tetapi belum memfasilitasi terjadinya kegiatan belajar dalam diri peserta didik. Mungkin saja ketika guru mengajar, mereka merasa tidak nyaman, dan berusaha sekuat tenaga menjadi tertib supaya tidak dicap pemberontak atau pembangkang. Padahal, mereka belum belajar, sebab gaya belajar dan pengalaman serta pemahaman mereka tidak ikut serta di dalam perbuatan  atau proses itu. Interaksi dialogis yang tidak bertumbuh dan berkembang membuat kegiatan mengajar kurang kreatif dan konstruktif. Mengajar haruslah kita maknai sebagai perbuatan dan memotivasi membantu, memfasilitasi peserta didik untuk belajar. Dialog dan diskusi mewarnai aktivitas belajar yang penuh makna dan menyenangkan.</p>
<p>Jika kita menyimak keterangan kitab Injil, Tuhan Yesus mengajar dan melatih para murid-Nya dengan pendekatan andragogi sebagaimana dikemukakan di atas. Pengalaman mereka dijadikan sarana dan bahan pembelajaran. Seringkali ajaran Yesus bertolak dari pertanyaan, masalah yang diajukan dan dialami para murid. Kotbah di Bukit misalnya, diucapkan Yesus setelah menyimak, melihat orang banyak yang datang kepada-Nya. Yesus mendengarkan mereka, kemudian menjawab apa yang diungkapkan. Lebih dari itu Dia mengetahui isi hati mereka. Tuhan Yesus juga menekankan kebersamaan dengan murid-murid-Nya. Kehadiran-Nya dalam rumah, dalam ruang, dalam tugas, juga dalam persoalan yang dihadapi para murid, membawa perubahan besar. Yesus Guru Agung berkuasa di dalam mengajar tetapi tidak menjadi otoriter (bd. Mat 7:27-28). Prinsip inkarnasi selalu tampak di dalam melaksanakan tugas-Nya, Dia &#8220;mengosongkan diri&#8221; dan &#8220;menjadi serupa&#8221; dengan mereka yang dibina-Nya.</p>
<p><strong>Daftar Bacaan:</strong></p>
<p>Amstrong, Thomas (1999). <span style="text-decoration:underline;">Seven Kinds of Smart</span>. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.</p>
<p>Arif, Zainudin (1986). <span style="text-decoration:underline;">Andragogy</span>. Bandung: Penerbit Angkasa.</p>
<p>Brookfield. Stephen D (1986). <span style="text-decoration:underline;">Understanding and Facilitating Adult Learning</span>. Milton Keynes: Open University Press.</p>
<p>Cranton, Patricia (1994). <span style="text-decoration:underline;">Understanding and Promoting Transformative Learning</span>:<span style="text-decoration:underline;">A Guide for Educators of Adults</span>. San Francisco: Jossey-Bass Publishers.</p>
<p>DeProter, Bobbi., Mike Hernacki (1992). <span style="text-decoration:underline;">Quantum Learning</span>. Bandung: Penerbit KAIFA.</p>
<p>Gardner, Howard (1993). <span style="text-decoration:underline;">Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences</span>. Basic Books.</p>
<p>Gormly, Anne V., David M. Brodzinsky (1993). <span style="text-decoration:underline;">Lifespan Human Development</span>. 5<sup>th</sup> edition. Tokyo: Harcourt Brace Collage Publishers.</p>
<p>Knowles, Malcom S. (1993), &#8220;Contributions of Malcom Knowles,&#8221; in <span style="text-decoration:underline;">The Christian Handbook on Adult Education</span> eds. K.O.Gangel &amp; James C. Wilhoit. Victor Books. Pp. 91-103.</p>
<p>Knowles, Malcom S. (1970). <span style="text-decoration:underline;">The Moderns Practice of Adult Education: Andragogy Versus Pedagogy</span>. New York: Association Press.</p>
<p>Knowles, Malcom S. (1980). <span style="text-decoration:underline;">The Modern Prcatice of Adult Education: From Pedagogy to Andragogy</span>. N.Y.: Cambridge, The Adult Education Company.</p>
<p>Lunandi, A.G. (1984). <span style="text-decoration:underline;">Pendidikan Orang Dewasa</span>. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.</p>
<p>Merriam, Sharan B., Rosemary S. Caffarella (1999). <span style="text-decoration:underline;">Learning in Adulthood</span>. San Francisco: Jossey-Bass Publishers.</p>
<p>Nasution S (1988). <span style="text-decoration:underline;">Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar</span>. Jakarta: Penerbit PT Bina Aksara.</p>
<p>Newman, Barbra M., Philip R Newman (1987). <span style="text-decoration:underline;">Development Through Life: A Psychosocial Approach</span>. Chicago, ill.: The Dorsey Press.</p>
<p>Rogers, Alan (1986). <span style="text-decoration:underline;">Teaching Adults</span>. Milton Keynes: Open University Press.</p>
<p>Semiawan, Conny R. (1999). <span style="text-decoration:underline;">Pendidikan Tinggi: Peningkatan Kemampuan Manusia</span>. Jakarta: Penerbit PT Grasindo.</p>
<p>Suprijanto (2007). <span style="text-decoration:underline;">Pendidikan Orang Dewasa</span>. Jakarta: Bumi Aksara.</p>
<p>Tamat, Tisnowati (1985). <span style="text-decoration:underline;">Dari Pedagogik Ke Andragogik</span> Jakarta: Penerbit Pustaka Dian.</p>
<p>Wibowo, Alexander Jatmiko., Fandy Tjiptono, editor. (2002). <span style="text-decoration:underline;">Pendidikan Berbasis Kompetensi</span> Diterbitkan Dalam Rangka Dies Natalis ke-37 Universitas Atma Jaya Yogyakarta Bekerjasama dengan Pusat Pemasaran Universitas UAJY.</p>
<p><strong> </strong></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Awalnya sebagai rancangan bahan untuk International Conference on &#8220;Teaching and Learning in Higher Education for Developing Countries,&#8221; di Universitas Kristen Maranatha, Bandung, 28-29 Nopember 2007. Disajikan sebagai bahan diskusi bersama rekan-rekan dosen, dalam kelompk belajar bersama di Institut Alkitab Tiranus, Cihanjuang, Senin, 26 Nopember 2007.</p>
<p><a name="_ftn2" href="#_ftnref2">[2]</a> Beberapa karya di tanah air yang memperkenalkan konsep andrgagogi dalam pendidikan adalah oleh Lunandi (1984); Tamat (1985); Arif (1986), dan baru-baru ini oleh Suprijanto (2007).</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sadakata.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sadakata.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sadakata.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sadakata.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sadakata.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sadakata.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sadakata.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sadakata.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sadakata.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sadakata.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sadakata.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sadakata.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=9&subd=sadakata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sadakata.wordpress.com/2008/04/21/prinsip-pedagogi-dan-andragogi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c1c6709bd755c1f7cb1710e0700ed16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sadakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://sadakata.wordpress.com/2008/01/11/hello-world/</link>
		<comments>http://sadakata.wordpress.com/2008/01/11/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 07:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=1&subd=sadakata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sadakata.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sadakata.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sadakata.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sadakata.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sadakata.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sadakata.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sadakata.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sadakata.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sadakata.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sadakata.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sadakata.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sadakata.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sadakata.wordpress.com&blog=2495672&post=1&subd=sadakata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sadakata.wordpress.com/2008/01/11/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c1c6709bd755c1f7cb1710e0700ed16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sadakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>