DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN[1]
Oleh: B.S.Sidjabat, Ed.D
Pengantar
Salah satu tugas dan peran guru yang penting ialah mengelola kegiatan belajar siswanya, supaya mengalami perubahan hidup secara menyeluruh termasuk dalam aspek kognitif, afektif, spiritual dan psikomotoris. Untuk tujuan itu, tugas guru bukan hanya terbatas pada menyampaikan bahan pengajarannya. Dia bukan hanya berfungsi sebagai instructor. Guru juga berperan sebagai manager of learning. Supaya kegiatan pembelajarannya efektif dan efisien, haruslah didahului dengan pengelolaan yang baik. Menurut para ahli pembelajaran, tugas pengelolaan kegiatan belajar lazimnya termasuk: membuat rencana, membuat organisasi atau susunan, melaksanakan rencana, melakukan pengarahan dan membuat evaluasi dan pengawasan.
Bahwa kegiatan belajar agama Kristen harus dikelola dengan pendekatan aktif, pertama sekali dapat kita lihat dari prinsip pendidikan dalam Ulangan 6:6-9. Orangtua atau pengajar harus mengajari anak secara berulang-ulang, dengan percakapan, dengan memperlihatkan sesuatu, dengan kegiatan menuliskan, memakai sesuatu. Kegiatan itu perlu terjadi dalam konteks ruangan (di rumah) atau di luar ruangan (perjalanan). Kemudian, Alkitab mengajarkan bahwa Yesus Kristus Tuhan, telah memperlihatkan bagaimana Ia mengajar secara aktif dan kreatif di masa lalu. Keempat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) mencatat bahwa Yesus menjadikan para murid aktif dalam kegiatan belajarnya. Mereka mendengar, melihat, mengalami, merasakan, melakukan, berjalan bersama Yesus, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dll. Para murid belajar dari Yesus di rumah ibadat, di ladang gandum, di rumah, di jalan, di tepi danau, di gunung (bukit), di perahu, dll. Banyak lagi kisah yang dapat kita pelajari dari keempat Injil.
Cara belajar aktif – apa itu?
Karena kita berbicara mengenai pengelolaan belajar aktif, maka adalah baik membicarakan ciri khas dari kegiatan belajar aktif itu sendiri. Dengan mudah kegiatan belajar aktif dapat dibedakan dengan kegiatan belajar pasif. Dalam kegiatan belajar aktif guru dan murid sama-sama giat dalam berinteraksi baik dengan atau di sekitar bahan pengajaran maupun diantara mereka sendiri. Dalam kegiatan belajar pasif, biasanya hanya guru yang aktif menerangkan, berceramah, bercerita, sedangkan murid mendengar dan mencatat. Guru seringkali kelelahan dalam melaksanakan tugas itu, karena semua bertumpu kepada dirinya. Nanti pada waktu ujian, para murid berusaha kembali mengingat apa yang diceritakan guru, apa yang dicatatanya di buku, untuk menjawab atas soal-soal.
Dalam dunia pendidikan di Indonesia kita mengenal istilah cara siswa belajar aktif (CBSA). Ini istilah populer di awal tahun 80-an, sebelum kurikulum berbasis kompetensi (KBK) bergema. Sebuah sumber memberikan pengertiannya sebagai berikut: “CBSA merupakan proses kegiatan belajar-mengajar dimana peserta didik mengalami keterlibatan intelektual-emosional disamping keterlibatan fisik di dalam proses belajar-mengajar” (Rusyan, dkk., 1989:104-105).
Mengutip gagasan tokoh pendidikan dari Malang, Prof. Raka Joni, Dr. Oemar Hamalik mengemukakan bahwa kegiatan belajar CBSA dapat dilakukan dengan kegiatan seperti mendengarkan, berdiskusi, membuat sesuatu, menulis laporan, memecahkan masalah, memberikan prakarsa/gagasan, menyusun rencana, dan sebagainya. .. Setiap kegiatan tersebut menuntut keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran melalui asimilasi, dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta pengalaman langsung dalam rangka membentuk kertrampilan (motorik, kognitif, dan sosial), penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap (2001: 137).
Ciri kegiatan belajar aktif
Secara ringkas dapat dikemukakan di sini bahwa ada sejumlah sifat maupun ciri dari kegiatan pembelajaran aktif, yakni:
1 – Menekankan pentingnya kebermaknaan belajar untuk mencapai hasil belajar yang memadai.
2 – Menekankan pentingnya keterlibatan siswa di dalam proses belajar.
3 – Menekankan bahwa belajar adalah proses dua arah yang dapat dicapai oleh peserta didik.
5 – Menekankan hasil belajar secara tuntas. (Rusyan, dkk. 1989: 185)
Tampak dari butir-butir di atas, bahwa masalah kebermaknaan (meaningful learning) dalam belajar mendapat tempat penting. Anak didik akan giat mengikuti aktivitas belajar di kelas, membaca sumber yang ditugaskan, mendengarkan uraian guru, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, melakukan tugas yang diberikan, jika memang mereka sadar apa maknanya bagi dirinya sendiri. Prinsip AMBAK (apa manfaatnya bagiku) sangat mendasar dalam rangka menwujudkan kegiatan pembelajaran aktif. Istilah ini juga digemakan oleh apa yang dinamakan sekarang ini sistem pembelajaran quantum (Quantum learning) .
Kalau guru hendak mengelola kegiatan belajar aktif bersama anak didiknya, maka sebaiknya ia memahami prinsip kerja belajar aktif itu sendiri, antara lain:
A – Mengarah kepada jenis interaksi belakjar-mengajar yang optimal.
B – Menuntut berbagai jenis aktivitas peserta didik.
C – Strategi belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
D – Menggunakan multimetode (beragam metode).
E – Menggunakan multimedia secara bervariasi.
F – Mengarah kepada multi sumber belajar (bukan hanya ceramah guru).
G – Menurut perubahan kebiasaan cara mengajar guru. (Rusyan dkk., 1989:141).
Apakah tugas guru?
Dengan peran sebagai pengelola pembelajaran, Abdul Madjid (2005) mengemukakan bahwa ada sejumlah aspek yang harus dikelola oleh guru dalam mewujudkan kegiatan belajar aktif, yaitu: mengelola siswa yang belajar, mengelola diri sendiri sebagai guru, mengelola kegiatan, lingkungan, dan bahan pengajaran. Gagasan itu secara singkat saya kembangkan di bawah ini berkaitan dengan tugas dan peran guru PAK.
1 – Pengelolaan diri guru. Meski Madjid menempatkannya pada urutan kedua, saya kira ini harus yang utama dipikirkan dan dilakukan guru PAK. Ia harus berdoa kepada Tuhan, menyerahkan diri termasuk pikiran, roh, emosi, suara hati, sikap dan kemampuannya di dalam memimpin kegiatan belajar. Selain itu, tentunya guru harus membuat rencana pembelajaran atau satuan pembelajaran. Adalah baik bila guru mempunyai catatan-catatan yang diberikan kepada murid untuk diperbincangkan. Guru harus sadar tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana harus mengerjakannya.
2 – Pengelolaan siswa yang belajar. Artinya, guru memahami individu dan kelompok yang belajar. Berapa usia anak didik yang kita layani? Anak SD-kah? Siswa remaja SLTP atau SMA-kah? Apakah mereka umumnya cepat dalam belajar? Lambat? Minat mereka terhadap pelajaran PAK bagaimana? Kesiapan belajarnya bagaimana? Waktunya untuk belajar agama Kristen tepatkah? Apakah mereka belajar di siang hari setelah lelah dengan pelajaran lain? Apakah anak sulit bekerjasama atau mudah? Bagaimana cara mengatasi masalah siswa dalam belajar? Misalnya, kalau tidak menaruh minat atau mengajukan pertanyaan aneh-aneh? Apa yang harus dilakukan?
3 – Pengelolaan pembelajaran. Upaya ini menghendaki supaya guru mengerti prinsip belajar yang baik, memahami dan memilih metode. Bagaimana guru melakukan ceramah, diskusi, pemecahan masalah, bercerita, membuat lukisan, demonstrasi, karyawisata, dan mengelola kegiatan kerjasama. Selain itu, guru mesti memahami tehnik pembelajaran (tehnik pembukaan, tehnik menyajikan, menerangkan, tehnik bertanya, dan tehnik mendorong agar anak bertindak).
Kegiatan belajar aktif sebagaimana dikemukakan di atas melibatkan berbagai potensi siswa dalam rangka membangkitkan kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, disiplin, kebiasaan. Maka dalam kegiatan harus dilakukan beragam aktivitas, termasuk:
- Aktivitas melihat — (visual) membaca, memperhatikan gambar.
- Aktivitas berbicara — (oral) menyatakan pendapat, bertanyan, bercakap-cakap,
- Aktivitas mendengar — (listening) mendengar uraian, percakapan, dusksi, musik, dll.
- Aktivitas menulis — (writing) menulis cerita, kesaksian, karangan, mengisi angket, dll
- Aktivitas menggambar — (drawing) menggambar peta, membuat grafik, pola, dll
- Aktivitas gerak — (motorik) bermain, melakukan percobaabn, mengknostruksi sesuatu.
- Aktivitas emosional (emotional) menaruh minat, merasa senang, bergembira, tenang,
- Aktivitas spiritual (spiritual) – doa, kontemplasi, saat teduh, berbahasa roh?
4 – Pengelolaan lingkungan kelas. Idealnya memang guru harus mengatur kelas, tata ruangan agar menjadi lingkungan yang kondusif dalam belajar – tempat duduk, kebersihan, kenyamanan, cahaya, penyusunan barang-barang. Tetapi, bagaimana kalau guru PAK mendapat ruang belajar di perpustakaan? Bagaimana kalau di ruangan dekat WC? Ah, banyak lagi masalah!
5 – Pengelolaan bahan ajar. Guru PAK harus memilih dan menetapkan bahan ajar apa yang tersedia atau yang belum, jenis bahan ajarnya (cetak – handout, buku, silabus, modul, lembar kegiatan siswa, brosur, foto/gambar, model, peta; audio – kaset, disc, radio; visual – video, film, peta, lukisan, orang; interaktif). Dalam pengajaran agama Kristen, setidaknya guru menyediakan teks Alkitab yang harus dibaca, diselidiki atau dihafalkan. Juga nyanyaian yang akan dikidungkan. Bisa juga guru menyediakan kaset yang perlu didengarkan bersama untuk ditanggapi.
Sekedar sebagai pembanding terhadap pemikiran di atas, Dr Oemar Hamalik (2001) mengemukakan bahwa untuk membimbing anak aktif dalam kegiatan belajarnya, maka ada sejumlah tugas penting dari guru.
1- Menyiapkan lembaran kerja siswa
2- Menyusun tugas bersama siswa
3- Memberikan informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan
4- Memberikan bantuan dan pelayanan apabila siswa mendapat kesulitan
5- Menyampaikan pertanyaan yang bersifat asuhan
6- Membantu mengarahkan rumusan kesimpulan
7- Memberikan bantuan dan pelayanankhusus kepada siswa yang lamban
8- Menyalurkan bakat dan minat siswa
9- Mengamati setiap aktivitas siswa. (h. 139)
Jadi, yang mau dikatakan di sini, peranan guru dalam mengelola aktivitas belajar aktif tidak saja sebagai penyaji informasi melainkan fasilitator, motivator, pembimbing, yang memberi kesempatan lebih banyak bagi siswa untuk terlibat dalam mencari dan mengolah informasi.
Pertanyaan sekarang: Bagaimanakah cara guru dalam mengelola kegiatan belajar aktif? Idealnya, ada sejumlah tugas yang harus dikerjakan guru PAK.
Pertama, guru harus menetapkan tujuan belajar – kompetensi dasar dan hasil belajar serta indikatornya. Kemampuan apa yang diharapkan dikembangkan siswa? Apa ukuran kemampuan yang bertumbuh itu?
Kedua, pengaturan waktu yang tersedia bagi kegiatan belajar. Waktu dalam satu catur wulan atau dalam satu semester; waktu dalam setiap kegiatan belajar, berapa lama? Pertanyaan yang harus dijawab guru ialah: Cukupkah waktu untuk mewujudkan tujuan?
Ketiga, pengaturan ruangan belajar, ukuran dan bentuk kelas, bentuk dan ukuran bangku serta meja, jumlah siswa di kelas, jumlah siswa dalam setiap kelompok, jumlah kelompok di kelas.
Keempat, pengaturan siswa dalam kegiatan belajar. Kegiatan belajar apa yang dilaksanakan, apakah individual atau kelompok? Kalau kelompok harus ditetapkan berapa banyak dan bagaimana kriteriapnegelompokan – atas dasar kedekatan siswa dengan rekannya, menurutu kemampuan, menurut minat.
Kelima, menetapkan metode kegiatan, apa yang harus dilakukan? Biasanya sangat baik melalui diskusi, pencarian Alkitab, penyajian, dll.
A – Apakah metode yang menekankan kmounikasi satu arah dari guru kepada murid?
B – Apakah metode yang menekankan komunikasi dua arah hanya diantara guru dengan murid?
C – Apakah metode yang menekanka komunikasi mutli dimensi, daru guru kepada murid dan sebaliknya serta diantara murid?
Keenam, menetapkan dan melaksanakan evaluasi.
Komponen satuan kegiatan belajar
Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa mengelola kegiatan belajar aktif mempunyai arti merencanakan terlebih dahulu satuan pembelajaran. Berkaitan dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dewasa ini, maka komponen dalam sebuah satuan pembelajaran meliputi:
1 – Identitas mata pelajaran.
Nama pelajaran: ……….
Kelas : …………..
Semester/caturwulan: ……….
Waktu: ………….
Jumlah pertemuan: ……..
2 – Kompetensi dasar
Kompetensi dasar: ……….. (lihat kurikulum)
Hasil belajar/indikator: ………. (lihat kurikulum)
3 – Materi pokok
Pokok-pokok bahasan: …………
Teks Alkitab apa yang disampaikan: …….
4 – Media/alat pembelajaran – guru mengemukakan apa yang menjadi sumber dan media pembelajaran.
5 – Strategi pembelajaran — guru menuliskan skenario atau tahapan-tahapan proses belajar yang diikuti oleh siswa, apa yang dilakukan guru dan apayang dilakukan siswanya.
A- Apa yang menjadi kegiatan awal pembelajaran?
B- Bagaimana membuka pelajaran supaya minat siswa dan motivasinya dibangkitkan?
C – Bagaimana meningkatkan kondisi belajar siswa?
D- Apa saja kegiatan inti – guna mempelajari pokok-pokok bahasan yang sudah ditetapkan? Apa kegiatan guru? Apakegiatan murid?
E- Apa yang menjadi kegiatan penutup?
6 – Penilaian dan tindak lanjut -
7 – Sumber bacaan yang dapat dibaca murid.
Apakah Anda sudah berlatih merumuskan satuan rencana kegiatan pembelajaran berdasarkan kurikulum PAK KBK?
Daftar bacaan:
Madjid, Abdul (2005). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: penerbit Remaja Rosdakarya.
Rusyan, Tabrani A., Atang Kusdinar., Zainal Arifin (1989). Pendekatan Dalam Proses Belajar
Mengajar. Remadja Karya.
Hasibuan, J.J., Moedjiono (1986). Proses Belajar Mengajar. Remadja Karya.
Robinson, D.N. Adjai (1988). Asas-Asas Praktik Mengajar. Bhratara.
Hamalik, Oemar (2001). Kurikulum dan Pembelajaran Bumi Aksara.
Davies, Ivor K (1987). Pengelolaan Belajar Radjawali Press.
Hutabarat, Oditha R. (2004). Model-Model Pembelajaran Aktif Pendidikan Agama Kristen
SD, SMP, SMA Berbasis Kompetensi. CV. Bina Media Informasi.
[1] Bahan diskusi bersama guru-guru agama Kristen tingkat SLTP di Lembang, 25 Nopember 2005; dikembangkan dari bahan ceramah dan diskusi bersama guru PAK di Bandung, pada tanggal 22 September 2005.